Jumat, 16 Agustus 2019

Makalah Ulumul Qur'an


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. Sebagai risalah yang universal. Dan merupakan sebuah petunjuk bagi semua manusia yang lengkap dan komprehensif. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah swt., dan ia adalah kitab yang senantiasa dipelihara oleh Allah sampai hari akhir nanti. Kita tidak bisa memahami al-Qur’an dengan baik hanya bermodalkan al-Qur’an terjemahan. Untuk memahami al-Qur’an dengan benar perlu didukung oleh ilmu-ilmu yang berbicara khusus tentang persoalan al-Qur’an dari segi asbab al-nuzul, cara pengumpulan al-Quran, cara membaca (ilmu qira’at), ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, I’rab al-Qur’an, kisah-kisah dalam al-Qur’an, tafsir al-Qur’an dan lain sebagainya. Semua itu dibahas tuntas dalam Ulumul Qur’an. Ulumul Qur’an adalah salah satu jalan yang bisa membawa kita dalam memahami al-Qur’an. Kita juga perlu mengetahui pengertian Ulumul Qur’an, pokok pembahasan dan perkembangan Ulumul Qur’an serta siapa saja tokoh-tokoh penting yang berperang dalam mendongkrak munculnya ilmu ini.
B.     Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian Ulumul Qur’an?
2. Bagaimana Pengertian Qur’an?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian ulumul quran
2.      Mengetahui pengertian quran




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ulumul Qur’an
Ulumul Qur’an terdiri atas dua kata: ulum dan al-Qur’an. Ulum (علوم) adalah jamak dari kata tunggal ilm (علم), yang secara harfiah berarti ilmu. Sedangkan al-Qur’an adalah nama bagi kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Dengan demikian, maka secara harfiah kata ‘ulumul qur’an’ dapat diartikan sebagai ilmu-ilmu al-Qur’an.
1.      Pengertian Ulum
Kata ulum (علوم) merupakan bentuk plural dari dari kata tunggal ilm (علم). Kata ilm adalah bentuk masdar (kata kerja yang dibendakan). Secara etimologis berarti al-fahmu (paham), al-ma’rifah (tahu) dan al-yaqin (yakin). Ketiga istilah tersebut mengandung pengertian yang berbeda dan bisa dikaji lebih mendalam buku-buku perbedaan kosakata bahasa Arab, seperti kitab al furuq al-lugawiyyah karya Abu Hilal al-Askari.
Secara terminologis, ilmu mempunyai definisi-definisi yang berbeda sesuai dengan latar belakang pendefinisi tersebut. Para filosof mengartikan bahwasanya ilmu adalah konsep yang muncul dalam akal maupun keterkaitan jiwa dengan sesuatu menurut cara pengungkapannya. Para Teologis berpendapat bahwa ilmu adalah sifat yang bisa membedakan sesuatu tanpa kontradiksi. Sedangkan orang-orang bijak mengartikan ilmu sebagai gambaran sesuatu yang dihasilkan dari akal.
Adapun menurut syara’, ilmu adalah mengetahui dan memahami Ayat-ayat Allah dan lafalnya berkenaan dengan hamba dan mahluk-makhluknnya. Dari situlah Imam Ghazali berpendapat bahwasanya ilmu sebagai objek yang wajib dipelajari oleh orang Islam adalah konsep tentang ibadah, akidah, tradisi dan etika Islam secara lahir dan batin. Al-Qur’an menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah/2: 31-32 “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan”. Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu disamping klasifikasi dan ragam disiplinnya.
2.       Pengertian Al-Qur’an
Kata al-Qur’an merupakan bentuk Mashdar (kata kerja yang dibendakan), dengan mengikuti standar Fu’lan, sebagaimana lafadz Gufran, Rujhan dan Syukran. Lafadz Qur’an adalah lafadz Mahmuz, yang salah satu bagiannya berupa huruf hamzah, yaitu pada bagian akhir, karenanya disebut Mahmuz Lam, dari lafadz:
Qara’a-Yaqra'[u]-Qirâ’at[an]-Qur’ân[an], dengan konotasi Tala-Yatlu-Tilawat[an]: membaca-bacaan. Kemudian lafadz tersebut mengalami konversi dalam peristilahan syariat, dari konotasi harfiah ini, sehingga dijadikan sebagai nama untuk bacaan tertentu, yang dalam istilah orang Arab disebut: Tasmiyyah al-maf’ul bi al-masdar, menyebut obyek dengan Masdarnya.
Konotasi harfiah seperti ini dinyatakan dalam firman Allah swt. dalam Q.S. al-Qiyamah/75:16-17.
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ. لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Terjemahnya: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kata al-Qur’an bukan lafadz Mahmuz (yang salah satu bagiannya berupa huruf hamzah) dan tidak diambil dari pecahan kata قرأ.[9] Seperti Imam Syafi’i (150-204 H), salah seorang imam mazhab yang terkenal, mengatakan bahwa kata al-Qur’an ditulis dan dibaca tanpa hamzah, serta tidak diambil dari pecahan kata manapun (ghayr musytaqq). Ia adalah nama khusus yang dipakai untuk kitab suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw., seperti halnya dengan nama Injil dan Taurat, yang masing-masing diberikan kepada nabi Isa dan nabi Musa.
Para ahli bahasa, ulama ushul dan kalam telah mendefinisikan al-Qur’an dengan definisi yang beragam. Dalam pandangan ahli bahasa, al-Qur’an adalah nama perkataan Allah yang memiliki mu’jizat, yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Ulama fikih dan usul memberikan definisi al-Qur’an yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw., membacanya dinilai sebagai ibadah, dinukilkan secara mutawatir mulai dari surah al-Fatihah sampai ke akhir surah al-Nas. Sedangkan ulama kalam memberikan pengertian al-Qur’an sebagai kalam Allah yang berdiri sendiri, bukan berupa huruf, bukan makhluk dan tidak dengan suara.
Dari beberapa definisi di atas bisa disimpulkan bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah yang berupa mukjizat, diturunkan kepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara mutawatir, serta dinilai beribadah ketika membacanya.
Batasan: kalam Allah yang berupa mukjizat telah menafikan selain kalam Allah, seperti kata-kata manusia, jin, malaikat, nabi atau rasul. Karena itu, hadits Qudsi ataupun hadits Nabawi tidak termasuk di dalamnya.
Batasan: diturunkankepada Muhammad saw. telah mengeluarkan apa saja yang dikatakan sebagai al-Qur’an, namun tidak mutawatir, seperti bacaan-bacaan Syaz, yang tidak Mutawatir, yang telah diriwayatkan bahwa bacaan tersebut merupakan al-Qur’an, namun ternyata diriwayatkan secara Ahad, maka bacaan tersebut tidak bisa dianggap sebagai al-Qur’an.
Misalnya, bacaan Ibn Mas’ud terhadap firman Allah swt. dalam Q.S. al-Maidah/5: 89.
فَمَنْ لَمْ يَجِدْ
فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّام  ….
Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari…yang beliau tambahkan dengan: Mutatabi’at (berturut-turut),  atau bacaan beliau terhadap firman Allah dalam Q.S. al-Nisa/4: 20.
وَءَاتَيْتُمْ
إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا .....
…Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun… yang juga beliau tambahkan dengan: Min Dzahab [in] (dari emas), setelah lafadz: Qintaran (harta yang banyak). Jadi penggantian, penambahan atau yang sejenis dari bacaan-bacaan tersebut tidak layak disebut al-Qur’an, bahkan disebut hadits Nabawi juga tidak boleh, karena bacaan-bacaan tersebut telah dinisbatkan kepada pembacanya. Maka, ia tidak lebih dari sekedar tafsir, atau pandangan bagi orang yang menetapkannya.
Mengenai batasan
terakhir: dinilai beribadah ketika membacanya telah mengeluarkan hadits Qudsi, meski ia dinisbatkan kepada Allah. Sebab, membacanya tidak bernilai ibadah, sebagaimana yang akan dijelaskan kemudian.
3.      Pengertian Ulumul Qur’an
Adapun yang dimaksud dengan Ulumul Qur’an dalam terminologi para ahli ilmu-ilmu al-Qur’an seperti diformulasikan Muhammad ‘Ali al-S}
abuni adalah sebagai berikut:
يقصد بعلوم القرآن    
الأبحاث التى تتعلق بهذا الكتاب المجيد الخالد من حيث الترول، والجمع،
 الترتيب والتدوين ومعرفة اسباب الترول والمكي منه والمدنى ومعرفة الناسخ
والمنسوخ والمحكم والمتشابه وغير ذلك من الأبحاث الكثيرة اتى تتعلق بالقرآن العظيم
او لها صلة ب.…
“Yang dimaksud dengan Ulumul Qur’an ialah rangkaian pembahasan yang berhubungan dengan al-Qur’an yang agung lagi kekal, baik dari segi (proses) penurunan dan pengumpulan serta tertib urutan-urutan dan pembukuannya, dari sisi pengetahuan tentang asbabun nuzul, makiyyah-madaniyyah, nasikh-mansukhnya, muhkam mutasyabihnya, dan berbagai pembahasan lain yang berkenaan dengan al-Qur’an.”
Dari definisi Ulumul Qur’an di atas, dapat dipahami bahwa yang menjadi objek utama dari kajian Ulumul Qur’an adalah al-Qur’an itu sendiri.
Selain definisi di atas, masih kita dapati pula definisi yang lain, seperti Manna‘ al-Qattan dalam Mabahis fi Ulum al-Qur’an memberikan defenisi Ulumul Qur’an sebagai berikut:
العلم الذى يتناول
الأبحاث المتعلقة بالقران من حيث معرفة أسباب النزول, وجمع القران وترتيبه, ومعرفة
المكي والمدنى, والناسخ والمنسوخ, والمحكم والمتشابه, إلى غير ذلك مماله صلة
بالقران.
“Ulumul Qur’an adalah ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an  dari sisi informasi tentang  Asbabun al-Nuzul (sebab-sebab turunnya al-Qur’an), kodifikasi dan tertib penulisan al-Qur’an, ayat-ayat makkiyah dan madaniyah, nasihk dan mansukh, ayat-ayat muhkam dan mutasyabih dan hal-hal lain yang berkaitan dengan al-Qur’an”.
Al-Zarqani dalam kitab Manahilul Irfan fi Ulum al-Qur’an merumuskan definisi Ulumul Qur’an, ialah:
عُلُوْمُ الْقُرْآنِ هُوَ
مَبَاحِثُ تَتَعلَّقَ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ نَاحِيَةِ نُزُوْلِهِ
وَتَرْتِيْبِهِ وَجَمْعِهِ وَكَتَابَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ وَتَفْسِيْرِهِ
وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَدَفْعِ الشُّبَهِ عَنْهُ وَنَحْوِ
ذلِكَ
“Ulumul Qur’an ialah pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari segi urutannya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, mukjizatnya, nasikh-mansukhnya, dan penolakan/ bantahan terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan confused (keraguan) terhadap al-Qur’an (yang serin dilancarkan oleh orientalis dan atheis dengan maksud untuk menodai kesucian al-Qur’an) dan sebagainya.”
Dari definisi-definisi Ulumul Qur’an tersebut di atas, kita dapat megambil kesimpulan bahwa Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti tafsir, maupun berupa ilmu-ilmu bahasa Arab seperti ilmu I’rab al-Qur’an. Ulumul Qur’an berbeda dengan ilmu yang merupakan cabang dari Ulumul Qur’an. Ulumul Qur’an membahas al-Qur’an dari segala segi yang ada relevansinya dengan al-Qur’an.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ulumul Qur’an terdiri atas dua kata: ulum dan al-Qur’an. Ulum (علوم) adalah jamak dari kata tunggal ilm (علم), yang secara harfiah berarti ilmu. Sedangkan al-Qur’an adalah nama bagi kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Dengan demikian, maka secara harfiah kata ‘ulumul qur’an’ dapat diartikan sebagai ilmu-ilmu al-Qur’an. Ulumul Qur’an ialah pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari segi urutannya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, mukjizatnya, nasikh-mansukhnya, dan penolakan/ bantahan terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan confused (keraguan) terhadap al-Qur’an (yang serin dilancarkan oleh orientalis dan atheis dengan maksud untuk menodai kesucian al-Qur’an) dan sebagainya.
B.     Saran
Kita menyadari akan kekurangan dan kesalahan lumrah terjadi pada manusia, maka dari itu kita sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi sebuah progress untuk masa yang akan datang.




DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Muhammad Bakri, Dirasat fi Ulum al-Qur‘an, Cet. II; Kairo: Dar al-Manar, 1999
Mahmud, Muni‘ Abd al-Halim, Ahmad Syahatah Ahmad Musa, Abd al-Badi‘ Abu Hasyim Muhammad, Ulum al-Qur‘an al-Karim, t.d.
Mardan, Al-Qur’an: Sebuah Pengantar Memahami al-Qur’an Secara Utuh, Cet. I; Makassar: Alauddin Press, 2009
al-Qattan, Manna’, Mabahis fi ulum al-Qur‘an, Cet. 10; Kairo: Maktabah Wahbah, 1997.
al-Sabuni, Muhammad ‘Ali, al-Tibyan fi ulum al-Qur’an, Cet. II; Kairo: Dar al-Sabuni, 2003.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

khutbah Idul Fitri Paling Menyentuh

Khutbah Idul Fitri Pesan Pesan Penting Di Momen Idul Fitri Oleh : Binto, S.Pd اَ لسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَتُ للّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ ...