BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
merupakan salah satu kebutuhan manusia setelah berada dan hidup di dunia ini.
Pertumbuhan dan perkembangan seseorang mengiringi pendidikan pada dirinya mulai
dari bayi sampai ia mati, mulai dari ia tahu sesuatu sampai ia pikun.
Pendidikan mempunyai proses pada diri manusia sesuai pula dengan
fitrah yang ada padanya masing-masing. Pendidikan pada dasarnya akan
menumbuhkan nilai pada diri seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Nilai
seseorang akan tampak ketika berbuat disaat ia sadar dan berada pada
tempat manusia beraktifitas. Nilai bisa direalisasikan apabila ada kehidupan
ditempat itu, disaat itulah baru terlihat pengaruh dari pendidikan. Pendidikan
bisa mengarahkan nilai yang ada pada diri seseorang, ketika nilai seseorang
baik maka dengan pendidikan itu bisa meningkatkan ataupun tetap
memelihara nilai-nilai itu sendiri. Pendidikan karakter
merupakan pendidikan akhlak mulia bagi anak dengan melibatkan aspek
pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Kecerdasan emosi akan mempersiapkan anak
untuk menghadapi segala macam tantangan
kehidupan dan kecerdasan spiritual akan membetuk anak yang taat beribadah dan
berbakti kepada orang tua, bertanggung jawab, dan ikhlas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian pendidikan?
2. Apa
pengertian nilai?
3. Apa
pengertian pendidikan nilai?
4. Apa
pengertian pendidikan karakter?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk
mengetahui pengertian pendidikan
2. Untuk
mengetahui pengertian nilai
3. Untuk
mengetahui pengertian pendidikan nilai
4. Untuk mengetahui
pengertian pendidikan karakter
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan
Pendidikan mempunyai beberapa pengertian sesuai dengan sudut pandang
seseorang, sebagaimana yang terdapat dalam Undang-undang Republik Indonesia No
20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional Bab I pasal I dinyatakan bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menwujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[1]
Disisi lain, Ki Hadjar Dewantara mendefenisikan pendidikan sebagaimana yang
dikutip oleh Abu Ahmadi dan Nur Ukhbiyati adalah sebagai tuntutan segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka kelak menjadi manusia dan
anggota masyarakat yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya.[2] Selain pendapat diatas, Ali Syariati mendefenisikan masyarakat sebagai
kumpulan orang yang semua individunya sepakat dalam tujuan yang sama dan masing-masing
membentu agar bergerak ke arah tujuan yang diharapkan atas dasar
kepemimpinan yang sama.[3]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah seluruh aktivitas
atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik
terhadap semua aspek semua perkembangan kepribadian, baik jasmani dan ruhani,
secara formal, informal dan non formal yang berjalan terus menerus untuk
mencapai kehidupan dan nilai yang tinggi (baik nilai Insaniah aupun ilahiyah).
Dalam hal ini, pendidikan berarti menumbuhkan kepribadian serta menanamkan
rasa tanggung jawab sehingga pendidikan terhadap diri manusia adalah laksana
makanan yang berfungsi member kekuatan, dan perbuatan untuk mempersiapkan
generasi yang menjalankan kehidupan guna memenuhi tujuan secara efektif dan
efisien.
B. Pengertian Nilai
Betapa luasnya implikasi konsep nilai ketika dihubungkan dengan konsep
lainnya, ataupun dikaitkan dengan sebuah statement. Konsep nilai ketika
dihubungkan dengan logika menjadi benar-salah, ketika dihubungkan dengan
estetika menjadi indah-jelek dan ketika dihubungkan dengan etika menjadi
baik-buruk. Akan tetapi yang pasti bahwa nilai itu menyatakan sebuah kualitas.
Bahkan dikatakan bahwa nilai adalah kualitas empiris yang tidak bisa
didefinisikan. Hanya saja, sebagaimana dikatakan Lois Katsoff, kenyataan bahwa
nilai tidak dapat didefenisikan tidak berarti nilai tidak bisa dipahami.[4]
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai itu dikelompokkan
menjadi tiga kelompok yaitu:
1.
Nilai yang berkenaan
dengan kebenaran atau yang terkait dengan nilai benar-salah yang dibahas oleh
logika.
2.
Nilai yang berkenaan
dengan kebaikan atau yang terkait dengan nilai baik-buruk yang dibahas oleh
moral.
3.
Nilai yang berkenaan
dengan keindahan atau yang terkait dengan nilai indah-jelek yang dibahas oleh
estetika.
Muhmidayeli mendefenisikan nilai adalah gambaran
tentang sesuatu yang indah menarik yang mempesona, menakjubkan, yang membuat
kita bahagia, senang dan merupakan sesuatu yang menjadikan seseorang atau
sekelompok orang memilikinya. Nilai dapat juga diartikan dalam makna
benar-salah, baik-buruk, manfaat atau berguna, indah dan jelek.[5]
Nilai secara umum, sebagaimana yang didefinisikan oleh
Hamka dengan standard atau ukuran (norma) yang digunakan untuk mengukur segala
sesuatu.[6]
Defenisi lain, Kuppermen mendefenisikan nilai dalam
Perspektif sosiologis sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam
menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif.[7]
Dalam perspektif filosofis dapat dipahami pejelasan
dari Prof. Amril Mansur. MA, sebagai guru besar di UIN Suska Riau,
mendefenisikan nilai adalah sesuatu yang diharapkan, dinginkan dan memiliki
harga bagi kehidupan, membawa pada pemahaman akan kualitas dari sesuatu apakah
itu perbuatan atau perilaku, sikap atau benda-benda yang dinilai. Oleh karena
itu kajian dalam filsafat moral arahnya tidak sebatas mengevaluasi keputusan-keputusan
moral, bagaimana orang benar-benar perilaku nilai, media sebagai alat guna
terwujudnya perilaku yang memiliki nilai dan tujuan-tujuan hidup yang bermuatan
nilai tetapi juga mampu melakukan evaluasi terhadap itu semua.[8]
Douglas Graham, melihat ada empat faktor yang
merupakan kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu yaitu:[9]
1.
Normativist. Biasanya kepatuhan pada
norma-norma hukum. Selanjutnya dikatakan bahwa kepatuhan ini terdapat dalam
tiga bentuk, yaitu; Kepatuhan pada nilai atau norma itu sendiri, Kepatuhan pada
proses tanpa mempedulikan normanya sendiri, dan Kepatuhan pada hasilnya atau
tujuan yang diharapkannya dari peraturan itu sendiri.
2.
Integralist. Yaitu kapatuhan yang
didasarkan kepada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.
3.
Fenomenalist. Yaitu kepatuhan
berdasarkan suara hati atau sekedar basa basi.
4.
Hedonist. Yaitu kepatuhan
berdasarkan kepentingan diri sendiri.
Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja
yang kita harapkan adalah kepatuhan yang bersifat normativist. Sebab
kepatuhan semacam itu adalah kepatuhan yang didasari kesadaran akan nilai,
tanpa mempedulikan apakah perilaku itu menguntungkan untuk dirinya atau tidak.
C. Pengertian Pendidikan Nilai
Pendidikan
nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang.
Mardiatmaja mengemukakan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta
didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara
integral dalam keseluruhan hidupnya. Dengan demikian pendidikan nilai tidak
hanya merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran,
tetapi mencakup pula keseluruhan proses pendidikan.[10]
Konsep utama
pendidikan nilai adalah bagaimana orang dapat hidup dengan nilai-nilai kebaikan
dan kebajikan dengan pengakuan yang sadar baik secara kognitif, emosional dan
perilaku.
Pendidikan
nilai merupakan usaha khusus, tetapi juga tetapi juga dapat disebut sebagai
dimensi dalam keseluruhan usaha pendidikan. Pendidikan semacam ini semakin
penting karena kesadaran nilai oleh masyarakat semakin tinggi. Ada tiga hal
yang menjadi sasaran pendidikan nilai, yaitu:
1.
Membantu peserta didik untuk
menyadari makna nilai dalam hidup manusia.
2.
Membantu pendalaman dan pengembangan
pemahaman serta pengalaman nilai.
3.
Membantu peserta didik untuk
mengambil sikap terhdap aneka nilai dalam perjumpaan dengan sesame, agar dapat
mengarahkan hidupnya bersama orang lain secara bertanggung jawab .
D. Pengertian Pendidikan Karakter
Kata karakter berasal dari bahasa Latin “Karakter”, “Kharassein”, “Kharax”,
dalam bahasa Inggris “Character” dan Indonesia “Karakter”, Yunani “Character”,
dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Dalam kamus poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat,
watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang
dengan yang lain, nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal
seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan,
potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.
Adapun pendidikan karakter didefinisikan oleh Hornby dan Parnwell, yang
mengatakan karakter adalah kualitas mental atau moral, nama atau reputasi.
Hermawan Kertajaya mendefinisikan karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh
suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut ialah asli dan mengakar pada
kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong
bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu.[11]
Untuk melengkapi pengertian tentang karakter ini akan dikemukakan juga
pengertian akhlak, moral, dan etika. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab
“al-akhlaq” yang merupakan bentuk jamak dari kata “al-khuluq” yang berarti budi
pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.[12] Sedangkan secara terminologis, akhlak berarti keadaan gerak jiwa yang
mendorong ke arah melakukakan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran.
Inilah pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih. Sedang Al-Ghazali
mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tetap pada jiwa yang daripadanya
timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada
pikiran.[13]
Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak,
sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang
meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan,
dengan dirinya, sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkatan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah seluruh aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan
oleh pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek semua perkembangan
kepribadian, baik jasmani dan ruhani, secara formal, informal dan non formal
yang berjalan terus menerus untuk mencapai kehidupan dan nilai yang tinggi
(baik nilai Insaniah aupun ilahiyah).
Nilai adalah gambaran tentang sesuatu yang indah menarik yang mempesona,
menakjubkan, yang membuat kita bahagia, senang dan merupakan sesuatu yang
menjadikan seseorang atau sekelompok orang memilikinya. Pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan pembinaan personal
peserta didik secara terprogram dengan tujuan tertentu bagi lembaga pendidikan
dengan menitikberatkan pembinaan ideologi agama, budaya bangsa yang unggul dan
jiwa kepemimpinan, yang sekaligus membangun kekuatan dan kualitas peserta didik
yang berkarakter unggul. Pendidikan karakter pada tiga komponen, yaitu sekolah,
keluarga, dan masyarakat diharapkan memiliki upaya dan usaha penanaman dan
pembudayaan nilai, sikap, dan cara berfikir, serta meningkatkan kompetensi dan
integritas. Terutama dalam aspek berbasis nilai agama, budaya bangsa,
kepemimpinan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta wawasan global bagi peserta
didik dan seluruh civitas dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Untuk
itu, pendidikan karakter yang menjadi tanggung jawab sekolah, keluarga, dan
masyarakat harus dijadikan sebagai sarana untuk penyadaran, peneguhan,
pengayaan, pencerahan dan pemahaman.
B.
Saran Penulis
Makalah ini masih jauh dari nilai sempurna,
tetapi paling tidak hasil dari makalah ini dapat menggambarkan tentang sekilas Pendidikan Nilai dan Karakter. Oleh
karena itu, jika ada kesalahan dalam isi makalah ini adakalanya kepada semua
pembaca dapat memberikan masukan, kritikan, saran atau yang lainnya untuk
menyempurnakan isi makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Fahmi Dzajuli. 2016. Pendidikan Karakter. Makalah.
Herianto.
2017. Pendidikan Nilai. Makalah. Dikutip dari http://heriantonasution123.blogspot.com/2017/02/pendidikan-nilai.html.
11 Maret
[3] Al Rasyidin, Falsafah
Pendidikan Islami; Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi (
Medan : Cita Pustaka Media, 2012), hal. 32
[8] Amril Mansur, Pendidikan
Nilai ; Telaah Epistimologi, dan Metodologis Pembelajaran Akhlak di Sekolah
(laporan Hasil Penelitian), hal. 15
[11] Abdul Majid, Pendidikan Karakter Persfektif Islam,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 11.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar