Jumat, 16 Agustus 2019

Makalah Pendidikan Nilai dan Karakter


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia setelah berada dan hidup di dunia ini. Pertumbuhan dan perkembangan seseorang mengiringi pendidikan pada dirinya mulai dari bayi sampai ia mati, mulai dari ia tahu sesuatu sampai ia pikun. Pendidikan mempunyai proses  pada  diri manusia sesuai pula dengan fitrah yang ada padanya masing-masing. Pendidikan pada dasarnya akan menumbuhkan nilai pada diri seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Nilai seseorang akan tampak ketika  berbuat disaat ia sadar dan berada pada tempat manusia beraktifitas. Nilai bisa direalisasikan apabila ada kehidupan ditempat itu, disaat itulah baru terlihat pengaruh dari pendidikan. Pendidikan bisa mengarahkan nilai yang ada pada diri seseorang, ketika nilai seseorang baik maka dengan pendidikan itu bisa  meningkatkan ataupun tetap memelihara nilai-nilai itu sendiri. Pendidikan karakter merupakan pendidikan akhlak mulia bagi anak dengan melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Kecerdasan emosi akan mempersiapkan anak untuk  menghadapi segala macam tantangan kehidupan dan kecerdasan spiritual akan membetuk anak yang taat beribadah dan berbakti kepada orang tua, bertanggung jawab, dan ikhlas.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan?
2.      Apa pengertian nilai?
3.      Apa pengertian pendidikan nilai?
4.      Apa pengertian pendidikan karakter?
C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan
2.      Untuk mengetahui pengertian nilai
3.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan nilai
4.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan karakter

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan
Pendidikan mempunyai beberapa pengertian sesuai dengan sudut pandang seseorang, sebagaimana yang terdapat dalam Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional Bab I pasal I dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menwujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[1]
Disisi lain, Ki Hadjar Dewantara mendefenisikan pendidikan sebagaimana yang dikutip oleh Abu Ahmadi dan Nur Ukhbiyati adalah sebagai tuntutan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka kelak menjadi manusia dan anggota masyarakat yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[2] Selain pendapat diatas, Ali Syariati mendefenisikan masyarakat sebagai kumpulan orang yang semua individunya sepakat dalam tujuan yang sama dan masing-masing membentu agar bergerak ke arah tujuan  yang diharapkan atas dasar kepemimpinan yang sama.[3]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah seluruh aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek semua perkembangan kepribadian, baik jasmani dan ruhani, secara formal, informal dan non formal yang berjalan terus menerus untuk mencapai kehidupan dan nilai yang tinggi (baik nilai Insaniah aupun ilahiyah). Dalam hal ini, pendidikan berarti menumbuhkan kepribadian serta menanamkan rasa tanggung jawab sehingga pendidikan terhadap diri manusia adalah laksana makanan yang berfungsi member kekuatan, dan perbuatan untuk mempersiapkan generasi yang menjalankan kehidupan guna memenuhi tujuan secara efektif dan efisien.
B.     Pengertian Nilai
Betapa luasnya implikasi konsep nilai ketika dihubungkan dengan konsep lainnya, ataupun dikaitkan dengan sebuah statement. Konsep nilai ketika dihubungkan dengan logika menjadi benar-salah, ketika dihubungkan dengan estetika menjadi indah-jelek dan ketika dihubungkan dengan etika menjadi baik-buruk. Akan tetapi yang pasti bahwa nilai itu menyatakan sebuah kualitas. Bahkan dikatakan bahwa nilai adalah kualitas empiris yang tidak bisa didefinisikan. Hanya saja, sebagaimana dikatakan Lois Katsoff, kenyataan bahwa nilai tidak dapat didefenisikan tidak berarti nilai tidak bisa dipahami.[4]
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai itu dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:
1.      Nilai yang berkenaan dengan kebenaran atau yang terkait dengan nilai benar-salah yang dibahas oleh logika.
2.      Nilai yang berkenaan dengan kebaikan atau yang terkait dengan nilai baik-buruk yang dibahas oleh moral.
3.      Nilai yang berkenaan dengan keindahan atau yang terkait dengan nilai indah-jelek yang dibahas oleh estetika.
Muhmidayeli mendefenisikan nilai adalah gambaran tentang sesuatu yang indah menarik yang mempesona, menakjubkan, yang membuat kita bahagia, senang dan merupakan sesuatu yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang memilikinya. Nilai dapat juga diartikan dalam makna benar-salah, baik-buruk, manfaat atau berguna, indah dan jelek.[5]
Nilai secara umum, sebagaimana yang didefinisikan oleh Hamka dengan standard atau ukuran (norma) yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu.[6]
Defenisi lain, Kuppermen mendefenisikan nilai dalam Perspektif sosiologis sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif.[7]
Dalam perspektif filosofis dapat dipahami pejelasan dari Prof. Amril Mansur. MA, sebagai guru besar di UIN Suska Riau, mendefenisikan nilai adalah sesuatu yang diharapkan, dinginkan dan memiliki harga bagi kehidupan, membawa pada pemahaman akan kualitas dari sesuatu apakah itu perbuatan atau perilaku, sikap atau benda-benda yang dinilai. Oleh karena itu kajian dalam filsafat moral arahnya tidak sebatas mengevaluasi keputusan-keputusan moral, bagaimana orang benar-benar perilaku nilai, media sebagai alat guna terwujudnya perilaku yang memiliki nilai dan tujuan-tujuan hidup yang bermuatan nilai tetapi juga mampu melakukan evaluasi terhadap itu semua.[8]
Douglas Graham, melihat ada empat faktor yang merupakan kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu yaitu:[9]
1.      Normativist. Biasanya kepatuhan pada norma-norma hukum. Selanjutnya dikatakan bahwa kepatuhan ini terdapat dalam tiga bentuk, yaitu; Kepatuhan pada nilai atau norma itu sendiri, Kepatuhan pada proses tanpa mempedulikan normanya sendiri, dan Kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkannya dari peraturan itu sendiri.
2.      Integralist. Yaitu kapatuhan yang didasarkan kepada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.
3.      Fenomenalist. Yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa basi.
4.      Hedonist. Yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri.
Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja yang kita harapkan adalah kepatuhan yang bersifat normativist. Sebab kepatuhan semacam itu adalah kepatuhan yang didasari kesadaran akan nilai, tanpa mempedulikan apakah perilaku itu menguntungkan untuk dirinya atau tidak.
C.    Pengertian Pendidikan Nilai
Pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Mardiatmaja mengemukakan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Dengan demikian pendidikan nilai tidak hanya merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup pula keseluruhan proses pendidikan.[10]
Konsep utama pendidikan nilai adalah bagaimana orang dapat hidup dengan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan dengan pengakuan yang sadar baik secara kognitif, emosional dan perilaku.
Pendidikan nilai merupakan usaha khusus, tetapi juga tetapi juga dapat disebut sebagai dimensi dalam keseluruhan usaha pendidikan. Pendidikan semacam ini semakin penting karena kesadaran nilai oleh masyarakat semakin tinggi. Ada tiga hal yang menjadi sasaran pendidikan nilai, yaitu:
1.      Membantu peserta didik untuk menyadari makna nilai dalam hidup manusia.
2.      Membantu pendalaman dan pengembangan pemahaman serta pengalaman nilai.
3.      Membantu peserta didik untuk mengambil sikap terhdap aneka nilai dalam perjumpaan dengan sesame, agar dapat mengarahkan hidupnya bersama orang lain secara bertanggung jawab .

D.    Pengertian Pendidikan Karakter
Kata karakter berasal dari bahasa Latin “Karakter”, “Kharassein”, “Kharax”, dalam bahasa Inggris “Character” dan Indonesia “Karakter”, Yunani “Character”, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Dalam kamus poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.
Adapun pendidikan karakter didefinisikan oleh Hornby dan Parnwell, yang mengatakan karakter adalah kualitas mental atau moral, nama atau reputasi. Hermawan Kertajaya mendefinisikan karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut ialah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu.[11]
Untuk melengkapi pengertian tentang karakter ini akan dikemukakan juga pengertian akhlak, moral, dan etika. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “al-akhlaq” yang merupakan bentuk jamak dari kata “al-khuluq” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.[12] Sedangkan secara terminologis, akhlak berarti keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukakan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Inilah pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih. Sedang Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tetap pada jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran.[13]
Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, dengan dirinya, sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkatan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan adalah seluruh aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek semua perkembangan kepribadian, baik jasmani dan ruhani, secara formal, informal dan non formal yang berjalan terus menerus untuk mencapai kehidupan dan nilai yang tinggi (baik nilai Insaniah aupun ilahiyah).
Nilai adalah gambaran tentang sesuatu yang indah menarik yang mempesona, menakjubkan, yang membuat kita bahagia, senang dan merupakan sesuatu yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang memilikinya. Pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan pembinaan personal peserta didik secara terprogram dengan tujuan tertentu bagi lembaga pendidikan dengan menitikberatkan pembinaan ideologi agama, budaya bangsa yang unggul dan jiwa kepemimpinan, yang sekaligus membangun kekuatan dan kualitas peserta didik yang berkarakter unggul. Pendidikan karakter pada tiga komponen, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat diharapkan memiliki upaya dan usaha penanaman dan pembudayaan nilai, sikap, dan cara berfikir, serta meningkatkan kompetensi dan integritas. Terutama dalam aspek berbasis nilai agama, budaya bangsa, kepemimpinan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta wawasan global bagi peserta didik dan seluruh civitas dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Untuk itu, pendidikan karakter yang menjadi tanggung jawab sekolah, keluarga, dan masyarakat harus dijadikan sebagai sarana untuk penyadaran, peneguhan, pengayaan, pencerahan dan pemahaman.
B.     Saran Penulis
Makalah ini masih jauh dari nilai sempurna, tetapi paling tidak hasil dari makalah ini dapat menggambarkan tentang sekilas Pendidikan Nilai dan Karakter. Oleh karena itu, jika ada kesalahan dalam isi makalah ini adakalanya kepada semua pembaca dapat memberikan masukan, kritikan, saran atau yang lainnya untuk menyempurnakan isi makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Fahmi Dzajuli. 2016. Pendidikan Karakter. Makalah.
Herianto. 2017. Pendidikan Nilai. Makalah. Dikutip dari http://heriantonasution123.blogspot.com/2017/02/pendidikan-nilai.html. 11 Maret


[1]   Abdul Latif , Pendidikan Nilai Kemasyarakatan ( Bandung : Refika Aditama 2009), hal. 7
[2]  Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter ( Yogyakarta :Ar-Ruzz Media, 2013), hal. 27
[3] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami; Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi ( Medan : Cita Pustaka Media, 2012), hal. 32

[4] Abdul Latif, Op.Cit., hal. 69
[5]  Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan ( Bandung : Refika Aditama, 2013), hal. 101
[6] Abd. Haris, Etika Hamka (Yogyakarta : LKiS, 2012), hal. 30
[7] Ibid.,
[8] Amril Mansur, Pendidikan Nilai ; Telaah Epistimologi, dan Metodologis Pembelajaran Akhlak di Sekolah (laporan Hasil Penelitian), hal. 15
[9] Tatang S, Ilmu Pendidikan ( Bandung : Pustaka Setia, 2012), hal. 275
[10] Amril, Op.Cit., hal.  20
[11] Abdul Majid, Pendidikan Karakter Persfektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 11.
12 Rahmat Djatnika, Sistem Etika Islami (Akhlak Mulia). (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2006), hlm. 27.
13 Hamzah Ya’qub, Etika Islam: Pembinaan Akhlaqul Karimah. (Bandung: CV Diponegoro, 2008). Cet IV, hlm 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

khutbah Idul Fitri Paling Menyentuh

Khutbah Idul Fitri Pesan Pesan Penting Di Momen Idul Fitri Oleh : Binto, S.Pd اَ لسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَتُ للّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ ...