Jumat, 16 Agustus 2019

Makalah dimensi dan aliran pemikiran Islam


DIMENSI DAN ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM
A.    Pengertian Dimensi  dalam Islam (Islam, Iman, dan Ihsan)
       Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dan dia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal). Pada dasarnya  Al-Islam yaitu Islam yang dikehendaki oleh agama ialah tunduk dan takluk kepada segala perintah dan petunjuk yang diberitahukan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam.
       Iman berasal dari kata “aamana”, artinya setia, mematuhi, dan kata “amina”, artinya berada dalam keamanan (aman), tidak kuatir akan mara-bahaya. Al-Iman yaitu iman yang dimaksudkan oleh agama Islam ialah pengakuan kebenaran sesuatu dengan hati dan “syara”  ialah itikad (Ketetapan keyakinan) dengan hati dan ikrar (pengakuan) dengan lidah, maka dinyatakanlah bahwa barang siapa yang menyatakan pengakuan (syahadat) dan berbuat (menurut pengakuan itu) padahal tidak disertai dengan itikad, maka ia adalah munafik, dan barang siapa menyatakan pengakuan tetapi tidak berbuat walaupun ada itikad, ia fasik, dan barang siapa memungkiri syahadat ia kafir. Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam mendefenisikan kata “iman” dengan sabdanya, “ iman adalah sebuah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan dan aktivitas anggota badan”.
            Ihsan berarti berbuat baik, membaikkan. Berbuat sebaik-baiknya bermakna berbuat sempurna. Dengan demikian kata itu juga mengandung pengertian berbuat sempurna, menyempurnakan. Di dalam Hadits Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam berkata bahwa ihsan adalah “menyembah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya Ia melihat kamu”.  Pada dasarnya perlu diketahui bahwa Ihsan berasal dari kata husn, yang artinya menunjuk pada kualitas sesuatu yang baik dan indah, karena pada mulanya jika manusia itu berbuat sesuatu yang indah, tentunya hal itu akan membawa kebaikan pada Tuhan. Berulang kali al-Qur’an memerintahkan manusia mengerjakan perbuatan baik, dan pada saat yang bersamaan, al-Qur’an menjanjikan orang-orang yang berbuat kebajikan akan dibawa naungan kelembutan, keramahan Tuhan. Seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an surah Yunus ayat 26 yang artinya “Bagi orang-orang yang berbuat baik, disediakan pahala yang terbaik dan tambahannya”. Dimana dalam melaksanakan perbuatan baik itu seorang manusia yang pertama kali adalah melakukan tauhid.
B.     Hubungan Dimensi dalam Islam (Islam, Iman dan Ihsan)
       Sebenarnya dimensi-dimensi dalam Islam berawal dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang dimuat dalam kitab sahihnya yang menceritakan dialog antara Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dan Malaikat Jibril tentang trilogi ajaran Ilahi. Haditsnya sebagai berikut:
 Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata: ”Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menjawab: ”Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke rumah Alloh jika engkau mampu mengerjakannya.”Orang itu berkata: ”Engkau benar.” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”. (Rasululloh) menjawab: ”Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir yang baik dan yang buruk.”Orang tadi berkata: ”Engkau benar.” Lalu orang itu bertanya lagi: ”Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab: “Hendaklah engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.” Orang itu berkata lagi: ”Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat.” (Beliau) mejawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata: ”Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya.” (Beliau) menjawab: ”Apabila budak melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi shollallohu ’alaihi wasallam bersabda: ”Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?”. Aku menjawab: ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda: ”Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”(HR. Muslim).
       Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa antara Islam, iman, dan ihsan. Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak absah tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam. Pada dasarnya setiap seorang yang mengaku beragama Islam bukanlah hanya sekedar Islam, namun seseorang tersebut harus mempunyai kepercayaan (ketauhidan), membenarkan dengan hati lalu dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan yang baik.  Dalam istilah Islam, iman, dan ihsan terdapat tumpang tindih.
       Ibnu Taimiah menjelaskan bahwa din itu terdiri dari tiga unsur, yaitu Islam, iman dan ihsan. Dalam tiga unsur itu terselip makna kejenjangan (tingkatan) : orang mulai dengan Islam, kemudian berkembang ke arah iman, dan memuncak dalam ihsan. Beliau juga menjelaskan yang agak berbeda tentang trilogi itu: Pertama, orang-orang yang menerima warisan kitab suci dengan mempercayai dan berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, namun masih melakukan perbuatan-perbuatan zalim, adalah orang yang baru ber-Islam, suatu tingkat permualaan dalam kebenaran; Kedua, orang yang menerima warisan kitab suci itu dapat berkembang menjadi mukmin, tingkat menengah, yaitu orang yang telah terbebas dari perbuatan zalim namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja; dan Ketiga, perjalanan mukmin itu (yang telah terbebas dari perbuatan zalim) berkembang perbuatan kebajikannya  sehingga ia menjadi pelomba (sabiq) perbuatan kabajikan; maka ia mencapai derajat ihsan. ” Orang yang telah mencapai tingkat ihsan.”kata Ibnu Taimiah, “akan masuk surga tanpa mengalami azab.”
       Kalau kita lihat menurut mazhab Syafi’I dijelaskan bahwa Tidaklah sempurna Islam seseorang jika tidak disertai dengan iman”. Sedangkan menurut mazhab Hanafi Islam dan iman sangat berkaitan, karena yang menyamakan antar Islam dan iman itu, hendaklah diartikan sebagai ketentuan untuk menjalankan hukum syariat. Dalam menjalankan hukum syariat, diperbolehkan menikah dengan seseorang yang tadinya musyrik, apabila ia telah mengaku masuk Islam dengan syarat yang cukup. Untuk menentukan beriman atau tidaknya seseorang, bukanlah kesanggupan manusia untuk menetapkannya. Inilah menurut mazhab Hanafi dalam membedakan antara Islam dengan iman.
       Adapun perbedaan antara Islam dan iman yang disebutkan dalam sebuah ayat al-Qur’an berikut ini:
قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
 Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami Telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami Telah tunduk', Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(Q.S.al-Hujarat: 49 : 14).
Terdapat beberapa hal yang terkandung di dalam ayat tersebut yang perlu diperhatikan. Pertama, iman dan Islam merupakan dua hal yang berbeda. Kenyataannya orang badui tersebut telah tunduk kepada perintah-perintah Allah namun tidak berarti mereka telah beriman kepada Allah. Bisa jadi ketundukkan mereka lantaran takut kepada Allah atau untuk menjalin persahabatan atau persekutuan, atau lantaran kepentingan untuk menikahi seorang gadis Muslim.
Kedua, iman bertempat di hati. Dalam ayat yang lain al-Qur’an menyatakan: mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam diberitahukan perihal kaum badui bahwasanya mereka tidak beriman, lantaran tersebut tidak terdapat di dalam hati mereka,  sehingga dapat dikatakan bahwasannya mereka tidak memiliki persyaratan pengakuan akan kebenaran dan tidak komitmen terhadapnya. Bahkan, harus diperhatikan bahwasannya Nabi Muhammad menyatakan perihal mereka ini tidak berdasarkan anjuran Allah. Allah semata yang berhak menilai ke dalam hati manusia dan menghakimi niat-niat dan pikiran mereka.
وَاللَّهُ يَعْلَمُ فِي قُلُوبِكُمْ
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati kamu sekalian, sedang kita semua tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati orang lain. Ketiga, ketundukkan merupakan bidang ketaatan dan perbuatan (‘amal). Manusia taat kepada Tuhan dengan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka.



C.  Aliran Pemikiran Islam
Aliran-Aliran Kalam
Menurut Ibn Khaldun, Ilmu kalam adalah Ilmu berisi tentang alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan teerhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan Ahli Sunnah. Adapun Aliran-aliran ilmu kalam diantaranya:
a.       Khawarij, kata ini berasal dari kata kharaja yang berarti “keluar”. Pada awalnya, Khawarij merupakan aliran atau fraksi politik, kelompok ini terbentuk karena persoalan kepemimpinan umat Islam, tetapi mereka membentuk suatu ajaran yang kemudian menjadi ciri umat, aliran mereka yaitu ajaran tentang pelaku dosa besar ( murtakib al-kaba’ir ). menurut Khawarij orang-orang yang terlibat dan menyetujui hasil tahkim telah melakukan dosa besar. Orang Islam yang melakukan dosa besar, dalam pandangan mereka berarti telah kafir: kafir setelah memeluk Islam berarti murtad dan orang murtad halal dibunuh berdasarkan hadis yang menyatakan bahwa nabi muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda ”man baddala dinah faktuluh”.
b.      Kelompok Murji’ah, di mana yang dipelopori oleh Ghilam Al-Dimasyqi berpendapat mereka bersifat netral dan tidak mau mengkafirkan para sahabat yang terlambat dan menyetujui tahkim dalam ajaran aliran ini, orang Islam yang melakukan dosa besar tidak boleh dihukum kedudukannya dengan hukum dunia. Mereka tidak boleh ditentukan akan tinggal di neraka atau di surga, kedudukan mereka ditentukan di akhirat. Dan bagi mereka Iman adalah pengetahuan tentang Allah secara mutlak. Sedangkan kufur adalah ketidaktahuan tentang Tuhan secara mutlak, iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang.
c.       Qodariah adalah aliran yang memandang bahwa Manusia memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidupnya. menurut paham ini manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
d.      Jabariyah, menurut aliran ini manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidup dan mewujudkan perbuatannya, mereka hidup dalam keterpaksaan (jabbar ), karena aliran ini berpendapat sebaliknya bahwa dalam hubungan dengan manusia, Tuhan itu Maha Kuasa. Karena itu, tuhanlah yang menentukan perjalanan hidup manusia dan yang mewujudkannya. Ajaran ini dipelopori oleh Al-ja’d bin Dirham.
e.       Mu’tazilah secara etimologi berasal dari kata a’tazala yang berarti mengambil jarak atau memisahkan diri. Secara terminologi adalah aliran teologi Islam yang memberi porsi besar kepada akal atau rasio di dalam membahas persoalan-persoalan ketuhanan.
f.       Ahlu sunnah wal jama’ah. Ahl sunnah wal jama’ah terbentuk akibat dari adanya penentangan terhadap aliran Mu’tazilah oleh orang Mu’tazilah itu sendiri, mereka adalah Abu al-Hasan, Ali bin Isma’il bin Abi basyar ishak bin Salim bin isma’il bin abd Allah bin Musa bin Bilal bin Abi burdah amr bin Abi musa al-asy’ari
2.   Aliran-Aliran Fiqih
Secara historis, hukum Islam telah menjadi 2 aliran pada zaman sahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam. Dua aliran tersebut adalah Madrasat Al-Madinah dan Madrasat Al-Baghdad/Madrasat Al-Hadits dan Madrasat Al-Ra’y. Aliran Madinah terbentuk karena sebagian sahabat tinggal di Madinah, aliran Baghdad/kuffah juga terbentuk karena sebagian sahabat tinggal di kota tersebut.
Atas jasa sahabat Nabi Muhammad sholallahu‘alaihiwasallam yang tinggal di Madinah, terbentuklah Fuqaha Sab’ah yang juga mengajarkan dan mengembangkan gagasan guru-gurunya dari kalangan sahabat.
Diantara fuqaha sab’ah adalah Sa’id bin Al-Musayyab. Salah satu murid Sa’id bin Al-Musayyab adalah Ibnu Syihab Al-Zuhri dan diantara murid Ibnu Syihab Al-Zuhri adalah Imam Malik pendiri aliran Maliki. Ajaran Imam Maliki yang terkenal adalah menjadikan Ijma dan amal ulama madinah sebagai hujjah. Dan di Baghdad terbentuk aliran ra’yu, di Kuffah adalah Abdullah bin Mas’ud, salah satu muridnya adalah Al-Aswad bin Yazid Al-Nakha’i salah satu muridnya adalah Amir bin Syarahil Al-Sya’bi dan salah satu muridnya adalah Abu Hanifah yang mendirikan aliran Hanafi. Salah satu ciri fiqih Abu Hanifah adalah sangat ketat dalam penerimaan hadits. Murid Imam Malik dan Muhammad As-Syaibani (sahabat dan penerus gagasan Abu Hanifah) adalah Muhammad bin Idris Al-Syafi’I, pendiri aliran hukum yang dikenal dengan Syafi’iyah atau aliran Al-Syafi’i. Imam ini sangat terkenal dalam pembahasan perubahan hukum Islam karena pendapatnya ia golongkan menjadi Qoul Qodim dan Qoul Jadid. Dengan demikian, kita telah mengenal sejumlah aliran hukum islam yaitu Madrasah Madinah, Madrasah Kuffah, Aliran Hanafi, Aliran Maliki, Aliran Syafi’I, Aliran Hanbali, Aliran Zhahiriyah dan Aliran Jaririyah. Tidak dapat informasi yang lengkap mengenai aliran-aliran hukum islam karena banyak aliran hukum yang muncul kemudian menghilang karena tidak ada yang mengembangkannya.

3.    Aliran-Aliran Tasawuf
Para penulis ajaran tasawuf, termasuk Harun Nasution, memperkirakan adanya unsur-unsur ajaran non-Islam yang mempengaruhi ajaran tasawuf. Unsur-unsur yang dianggap berpengaruh pada ajaran tasawuf adalah kebiasaan rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenangan materi. Pada dasarnya tasawuf merupakan ajaran tentang Al-Zuhd (Zuhud), kemudian ia berkembang dan namanya diubah menjadi tasawuf dan pelakunya disebut shufi. Zahid yang pertama adalah Al-Hasan Al-Basri. Dia pernah berdebat dengan Washil bin Atha’ dalam bidang teologi, ia berpendapat bahwa orang mu’min tidak akan bahagia sebelum berjumpa dengan Tuhan. Zahid dari kalangan perempuan adalah Rabi’ah Al-Adawiyah dari Basrah, ia menyatakan bahwa ia tidak bisa membenci orang lain, bahkan tidak dapat mencintai Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, karenya cintanya hanya untuk Allah Subhanahu wata’la.







Kesimpulan

Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dan dia adalah agama yang berintikkan keimanan dan perbuatan (amal). Iman yaitu iman yang dimaksudkan oleh agama Islam ialah pengakuan kebenaran sesuatu dengan hati dan “syara”  ialah itikad (Ketetapan keyakinan) dengan hati dan ikrar (pengakuan) dengan lidah, maka dinyatakanlah bahwa barang siapa yang menyatakan pengakuan (syahadat) dan berbuat (menurut pengakuan itu). Ihsan berarti berbuat baik, membaikkan. Berbuat sebaik-baiknya bermakna berbuat sempurna. Di dalam Islam terdapat dalam pemikirannya yaitu aliran kalam, tang terdiri dari beberapaaliran lagi yakni (Khawarij, Murji’ah, Qadariah, Jabariyah, Mu’tazilah), lalu adapula aliran fiqih dan aliran tasawuf, dimana aliran-aliran tersebut berbeda-beda dalam mengemukakan dalam hal pemikirannya tentang Islam itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

khutbah Idul Fitri Paling Menyentuh

Khutbah Idul Fitri Pesan Pesan Penting Di Momen Idul Fitri Oleh : Binto, S.Pd اَ لسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَتُ للّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ ...