BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Mengingat betapa urgensinya persoalan psikologi dalam kehidupan
manusia khususnya dalam dunia pendidikan, maka faktor ini medorong psikologi
terus dikaji dan dipelajari banyak orang. Psikologi ini merupakan sebuah ilmu yang
mempelajari tentang jiwa. Dimana ilmu ini sangat penting untuk kita pelajari
sebagai mahasiswa dan mahasiswi Pendidikan Agama Islam yang akan di aplikasikan
nanti kalau sudah masuk dunia mengajar dan terjun di masyarakat. Perhatian pada
psikologi yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu
dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan
kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Pengamatan biasanya dilakukan oleh
orang-orang yang cerdas. terjadi terhadap suatu proses dengan maksud merasakan
dan memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan.
Penanggapan itu umumnya pengahajatan kembali bekas-bekas yang diterima dahulu
dari pengamatan, yang sekarang digambarkan kembali dalam kesadaran.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian psikologi pendidikan?
2.
Apa
saja ruang lingkup psikologi pendidikan?
3.
Apa
Manfaat Psikologi peendidkan
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Mengetahui
makna psikologi pendidikan
2.
Mengetahui
ruang lingkup psikologi pendidikan
3.
Mengetahui
manfaat psikologi pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
dan Definisi Psikologi Pendidikan
Psikologi merupakan salah satu ilmu
yang sudah lama berkembang. Ilmu ini diyakini sudah ada sejak zaman Yunani
Kuno, meskipun disadari bahwa pada zaman ini psikologi merupakan domain dari
filsafat. Ini terjadi karena memang sebagai suatu ilmu, psikologi pada waktu
itu masih spekulatif. Bukti bahwa psikologi merupakan ilmu yang sudah ada sejak
Zaman Yunani Kuno adalah munculnya spekulasi Plato (427-347 SM) yang menyatakan
bahwa perbedaan-perbedaan individual sesungguhnya mempunyai dasar genetik.
Berbicara tentang perbedaan individual dan dasar genetik berarti berbicara
tentang psikologi sebab salah satu kajian dalam psikologi adalah perbedaan
individual dan faktor genetik.
Secara leksikal psikologi berasal
dari bahasa Yunani, yakni psyche yang berarti jiwa atau ruh dan logos yang
berarti ilmu. Di lihat secara leksikal psikologi dapat didefinisikan sebagai
ilmu tentang jiwa atau ruh. Definisi inilah yang dijadikan pegangan dan diyakini
masyarakat selama berabad-abad. Memasuki abad 19 para ahli banyak
mempertanyakan definisi tersebut sebab ternyata jiwa atau ruh tidak bisa
diamati dan sul it untuk dibuktikan. Yang dapat diamati atau dibuktikan adalah
perilaku organisme sebagai wujud dari adanya jiwa atau ruh. Oleh sebab itu
terjadi pendefinisian kembali tentang psikologi sebagai suatu ilmu. Karena yang
dapat diamati dan dibuktikan adalah tingkah laku organisme, maka psikologi
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme. Munculnya
istilah organisme pada definisi ini mengisyaratkan bahwa tingkah laku yang
dipelajari dalam psikologi bukan hanya tingkah laku manusia, tetapi juga
berbagai makhluk hidup lainnya. Pendefinisian kembali psikologi ini merupakan
salah satu pengaruh observasi Darwin pada tahun 1859 yang menghasilkan teori
evolusi, termasuk evolusi dari tingkah laku manusia.
Psikologi pendidikan merupakan
cabang dari psikologi yang tujuan utamanya adalah memahami dan mengembangkan
pendidikan. Woolfolk (1995 : 11) menjelaskan bahwa educational psychology is
distinct from other branches of psychology because it has the understannding
and improvement of education as its primary goal. Memahami pendidikan dimaksud
adalah memahami perilaku semua yang terlibat dalam proses pendidikan serta
berbagai hal yang akan mempengaruhi perilaku individu dalam proses pendidikan.
Terlingkup di dalamnya perilaku peserta didik. guru, kepala sekolah bangunan,
pakaian, nuansa akademik, budaya, keyakinan yang dianut oleh I ingkungan sekitar,
dan sebagainya.
Psikologi pendidikan merupakan
disiplin ilmu yang peduli dengan proses pembelajaran serta penerapan metoda dan
teori-teori psikologi dalam proses pendidikan. Woolfok (1995: 11) menegaskan
educational psychology the discipline concerned with teaching and learning
processes; applies the method and theories of psychology and has its own as
well. Pembelajaran yang dimaksud merupakan proses edukatif yang melibatkan
pendidik dan peserta didik sebagai pelaku utamanya. Pendidik berperan sebagai
facilitator terjadinya perkembangan peserta didik dan peserta didik merupakan
subjek pembelajaran yan sedang mengembangkan dirinya. Dalam interaksi antara
pendidik dan peserta didik terjadi saling mempengaruhi, terutama pengaruh
pendidik terhadap perkembangan peserta didik.
Dalam kerangka pendidikan ini,
pendidik berupaya memilih metoda pembelajaran yang tepat, yakni yang sesuai
dengan kebutuhan peserta didik. Misalnya, metoda pembelajaran yang tepat untuk
pembelajaran di SD kelas awal adalah belajar sambil bermain atau bermain seraya
belajar sebab peserta didik SD kelas awal masih kental dengan nuansa
kekanak-kanakan yang sangat famiiar dengan permainan. Disamping itu pendidik
berupaya menerapkan prinsip-prinsip teori psikologi yang dipandang tepat digunakan
dalam memfasiitasi perkembanan peserta didik. Salah satu contoh, pendidik
senantiasa memperhatikan keunikan individual setiap peserta didik meskipun daam
pembelajaran kelompok karena is paham bahwa secara teoritis pada prinsipnya
individu bersifat unik.
B.
Ruang
Lingkup Psikologi Pendidikan
Mengingat Mengingat bahwa psikologi
pendidikan merupakan ilmu yang memusatkan dirinya pada penemuan dan aplikasi
prinsip-prinsip dan teknik-teknik psikologi ke dalam pendidikan, maka ruang
lingkup psikologi pendidikan meliputi topik-topik psikologi yang erat
hubungannya dengan pendidikan. Crow & Crow (Ngalim 1995 : 10) secara
ekplisit mengemukakan psikologi pendidikan sebagai ilmu terapan berusaha untuk
menerangkan masalah belajar menurut prinsip-prinsip dan fakta-fakta mengenai
tingkah laku manusia yang telah ditentukan secara ilmiah.
Sejalan dengan pendapat di atas,
Crow & Crow mengemukakan bahwa data yang dicoba didapatkan oleh psikologi
pendidikan, yang demikian merupakan ruang lingkup psikologi pendidikan, antara
lain adalah:
a.
sampai
sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap
belajar;
b.
sifat-sitat
dari proses belajar;
c.
hubungan
antara tingkat kematnagan dengan kesiapan belajar;
d.
signifikansi
pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan
keterbatasan belajar;
e.
perubahan-perubahan
jiwa yang terjadi selama dalam belajar;
f.
hubungan
antara proseddur-prosedur mangajar dengan hash I belajar;
g.
teknik-teknik
yang sangat efektif bagi penilaian kemajuan dalam belajar;
h.
pengaruh/akibat
relatif dari pendidikan formal dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman
belajar yang insidental dan informal terhadap suatu individu;
i.
nilai/manfaat
sikap ilmiah terhadap pendidikan bagi personi I sekolah;
j.
akibat/pengaruh
psikologis yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi sosiologis terhadap sikap pada
siswa.
Seluruh
kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu
pengembangan semua potensi dan kecakapan yang dimiliki setinggi-tingginya.
Sehubungan dengan hal itu maka hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan,
potensi dan kecakapan, dinamika perilaku, serta kegiatan siswa terutama
perilaku belajar menjadi kajian utama dalam psikologi pendidikan.
Guru sebagai
orang pertama yang terlibat langsung dalam interaksi pendidikan dengan siswa,
menduduki tempat selanjutnya dalam interaksi ini. Berbagai bentuk aktivitas
mendidik, mengajar, melatih, dan membimbing yang dilakukan guru, tuntutan
kemampuan profesional serta latar belakang sosial pribadi dari guru menjadi
bahan studi selanjutnya dalam landasan psikologis pendidikan. Ketiga I
ingkungan pendidikan, yaitu sekolah yang terlibat langsung dalam interaksi
pendidikan, keluarga yang memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan
siswa, dan masyarakat yang walaupun tidak terlibat secara langsung dalam
interaksi belajar-mengajar di sekolah tetapi mempunyai peranan penting cukup
besar, jugs menjadi lingkup kajian psikologi pendidikan
C.
Manfaat
Psikologi Pendidikan bagi Pendidikan
Para ahli psikologi pendidikan pada
umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekalipun) tidak pernah
memiliki respons yang sama persis terhadap situasi belajar mengajar di sekolah.
Keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan, jasmani.
inteligensi. dan keterampilan motoriknya. Anak-anak itu seperti anak-anak yang
lainnya. relatif berbeda dalam berkepribadian sebagaimana tampak dalam
penampilan dan cars berpikir atau memecahkan masalah mereka masing-masing.
Para pendidik, khususnya guru
sekolah. sangat diharapkan memiliki pengetahuan psikologi pendidikan yang
sangat memadai agar dapat mendidik para siswa melalui proses belajar mengajar
yang efektif dan efisien. Pengetahuan mengenai psikologi pendidikan bagi para
guru berperan penting dalam menyelenggarakan pendichian-pendidikan di sekolahsekolah.
Hal itu disebabkan oleh eratnya hubungan psikologi khusus tersebut dengan
pendidikan, seerat metodik dengan kegiatan penmjaran
Pengetahuan yang bersifat psikologis
mengenai peserta didik dalam proses belajar dan proses belajar mengajar
sesungguhnya tidak hanya diperlukan oleh
calon guru atau guru yang sedang bertugas. Para dosen di perguruan tinggi pun
bahkan para orang tua, mereka perlu tahu sekaligus memahmi dengan benar apa dan
bagaimana psikologi pendidikan itu.
Berbeda dengan psikologi pendidikan,
psikologi pengajaram lebih menekankan
aspek-aspek penyajian materi pelajaran dan komunirasi antara guru-guru dengan
siswanya dalam proses instruksional dan proses belajar mengajar. Berikut adalah
beberapa hal penting berkaitan dengan psikologi pendidikan (syah, 1995).
a.
Psikologi
pendidikan adalah pengetahuan kependidikan yang didasarkan atas hasil-hasil
temuan riset psikoiogis.
b.
Hasil-hasil
temuan riset psikologis tersebut kemudian dirumuskan sedemikian rupa sehingga
menjadi konsep-konsep, teori-teori, dan metode-metode serta strategistrategi
yang utuh.
c.
Konsep,
teori, metode. dan strategi tersebut kemudian disistematisasikan sedemikian
rupa hingga menjadi "repertoire ofresource", yakni rangkaian sumber
yang berisi pendekatan yang dapat dipilih dan digunakan untuk praktik-praktik
kependidikan khususnya dalam proses belajar-mengajar.
Para ahli
psikologi melakukan riset tingkah laku manusia berdasarkan metodologi !miah.
Mereka menarik kesimpulan dan merumuskan teori-teori dan asumsi-asumsi Perdasarkan
temuan riset ilmiah itu. Namun, harus diakui antara satu teori dengan teori ang
lainnya sering muncul pertentangn-pertentangan dan ketidakajegan.
Sebagai calon
pendidik, atau pun guru yang sedang bertugas di suatu lembaga pendidikan, tidak
perlu memandang psikologi pendidikan sebagai satu-satunya gudang penyimpanan
jawaban-jawaban yang benar dan pasti atas persoalan-persoalan kependidikan yang
Anda hadapi. Namun sebaliknya, Anda tetap perlu tahu bahwa dalam psikologi
pendidikan terdapat serangkaian informasi tentang teori, praktik
belajar-mengajar, dan semua hal juga tentang guru dan siswa.
D.
Hal-hal
yang Dapat Diambil Manfaat dari Psikologi Pendidikan
Sebagaimana telah kita sadari
bersama bahwa psikologi pendidikan merupakan alat Bantu yang penting bagi bagi
para penyelenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam psikologi pendidikan dapat
dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengelola proses
belajar-mengajar.
Menurut Muhibbin Syah (1995)
setidak-tidaknya ada 10 macam kegiatan pendidikan yang banyak memerlukan
prinsip-prinsip psikologis, yakni:
1) seleksi penerimaan siswa baru;
2) perencanaan pendidikan;
3) penyusunan kurikulum;
4) penelitian kependidikan;
5) administrasi pendidikan;
6) pemilihan materi pelajaran;
7) interaksi belajar-mengajar;
8) pelayanan bimbingan dan konseling;
9) metodologi mengajar;
10) pengukuran dan evaluasi.
Guru yang memiliki kompetensi dalam
prespektif psikologi pendidikan adalah mereka yang mampu melaksanakan
profesinya secara bertanggung jawab. Adapun guru yang bertanggung jawab adalah
guru yang mampu mengelola proses belajar-mengajar sebaikbaiknya sesuai dengan
prinsip-prinsip psikologis. Berikut adalah beberapa hal yang dapat diambil
sebagai manfaat psikologi pendidikan.
1.
Proses
perkembangan siswa
Di kalangan para guru dan orang tua siswa terkadang timbul
pertanyaan apakah perbedaan usia antara siswa satu dengan lainnya membuat
perbedaan substansial dalam merespon pengajaran. Pertanyaan ini perlu dicari
jawabannya melalui pemahaman tentang tahapan-tahapan perkembangan siswa dan
ciri-ciri khas yang mengiringi tahapan perkembangan tersebut.
Tahapan perkembangan yang lebih perlu dipahami sebagai bahan
pertimbangan pokok dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar adalah
tahapan-tahapan yang berhubungan dengan perkembangan ranah kognitif para siswa.
Unsur kognitif dengan segala variasi dan keunikannya merupakan modal dasar para
siswa dalam menjalani proses be lajar mengajar.
2.
Cara
belajar siswa
Di mana pun proses pendidikan berlangsung, alasan utama kehadiran
guru adalah membantu siswa agar balajar sebaik-baiknya. Pengetahuan Anda yang
pokok adalah mengenai proses belajar tersebut meliputi:
1) arti penting belajar;
2) teori-teori belajar;
3) hubungan belajar dengan memori dan pengetahuan; dan
4) fase-fase yang dilalui siswa dalam peristiwa belajar.
Di
samping itu semua, yang penting pula dipahami adalah pendekatan belajar,
kesulitan belajar, dan alternatif proses mengajar.
3.
Cara
menghubungkan antara mengajar dengan belajar
Secara singkat mengajar adalah kegiatan menyampaikan materi
pelajaran, melatih keterampi Ian dan menanamkan nilai moral yang terkandung
dalam materi pelajaran tersebut kepada siswa. Agar kegiatan mengajar ini diterima
oleh para siswa, guru perlu berusaha membangkitkan gairah dan minat belajar
mereka. Oleh karena itu sebagai guru Anda diharapkan mengerti benar teentang
seluk-beluk mengajar baik dalam arti individual maupun kelompok. Dalam hal ini
tentu Anda dituntut untuk memahami model-model mengajar, metode-metode mengajar
dan strategi-strategi yang dapat diterapkan saat proses belajarmengajar
berlangsung.
4.
Pengambilan
keputusan untuk pengelolaan PBM
Dalam mengelola sebuah proses belajar-mengajar (PBM), seorang guru
dituntut untuk menjadi figur sentral yang kuat dan berwibawa, namun tetap
bersahabat (Syah, 1995). Untuk memenuhi hal tersebut Anda dituntut mampu
menempatkan diri sebagi pengambil keputusan atau pembuat keputusan yang penuh
perhitungan untung rugi berdasarkan kajian psikologis.
Agar
pengelolaan PBM mencapai sukses, seorang guru hendaknya memandang dirinya
sendiri sebagai profesional. Sehingga perilaku yang tertampilkan guru
bersangkutan dapat terarah sesuai dengan karakteristik seorang profesional.
Berikut dikemukakan hambatan-hambatan pengambilan keputusan yang
dialami seorang guru dalam proses PBM (Syah, 1995).
a.
Kurangnya
kesadaran guru terhadap masalah-masalah belajar yang mungkin sedang dihadapi
oleh para siswa.
b.
Kesetiaan
terhadap gagasan lama yang sebenarnya sudah diberlakukan lagi.
c. Kurangnya sumber-sumber
informasi yang diperlukan.
d. Ketidakcermatan
observasi terhadap situasi belajar-mengajar.
Selain hal
diatas, hambatan mungkin muncul dari perbedaan harapan anatara guru dengan
siswa. Beberapa siswa dalam kelas misalnya mungkin memiliki cita-cita memenuhi
kebutuhan masa depannya yang sama sekali berbeda dengan rekan-rekannya atau
bahkan menyimpang dari karakteristik sekolah yang mereka ikuti.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara leksikal
psikologi berasal dari bahasa Yunani, yakni psyche yang berarti jiwa atau ruh
dan logos yang berarti ilmu. Di lihat secara leksikal psikologi dapat
didefinisikan sebagai ilmu tentang jiwa atau ruh. Psikologi pendidikan
merupakan disiplin ilmu yang peduli dengan proses pembelajaran serta penerapan
metoda dan teori-teori psikologi dalam proses pendidikan. Seluruh kegiatan
interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu
pengembangan semua potensi dan kecakapan yang dimiliki setinggi-tingginya.
Sehubungan dengan hal itu maka hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan,
potensi dan kecakapan, dinamika perilaku, serta kegiatan siswa terutama
perilaku belajar menjadi kajian utama dalam psikologi pendidikan. Guru yang
memiliki kompetensi dalam prespektif psikologi pendidikan adalah mereka yang
mampu melaksanakan profesinya secara bertanggung jawab. Adapun guru yang
bertanggung jawab adalah guru yang mampu mengelola proses belajar-mengajar
sebaikbaiknya sesuai dengan prinsip-prinsip psikologis.
B.
Saran
Kritik dan saran sangan penulis harapkan demi Khasanah Kewilmuan dan
perbaikan kedepannya, agar kekeliruan dan kesalahan itu semakin ter minimalisir.
C.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi. Psikologi Umum. Jakarta: Pt Rineka Cipta. 2009.
Abu Bakar Muhammad. Pedoman Pendidikan dan
Pengajaran. Surabaya:
Usaha Nasional. 1981.
Chadijah Hasan. Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan. Surabaya: Pt.
Al-Ikhlas. 1994.
Djamarah , Syaiful Bahri. Psikologi
Belajar. Jakarta: Pt Rineka Cipta. 2011.
Jalaluddin dan Adbullah Idi. Filsafat
Pendidikan. Jakarta: Pt
Rajagranfindo. 2012.
M. Alisuf Sabri. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Cv Pedoman Ilmu
Jaya. 1996.
Ngalim Purwanto. Psikologi
Pendidikan. Bandung: Pt Remaja Rosda Karya. 2006.
Sumadi Suryabrata. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pt Rajagrafindo
Persada. 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar