إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه،
ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ
يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا
شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى
اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
.
Hadirin sidang shalat Jumat yang
dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Di dalam ajaran Islam, tidak ada
satu pun manusia di dunia ini yang bersih dari dosa, kecuali Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Siapapun dia dan apapun status sosialnya; apakah
dia seorang kiai, habib, ustadz, raja, pejabat, ahli hukum, hingga rakyat
jelata; semuanya pasti pernah melakukan perbuatan dosa. Inilah yang dapat kita
pahami dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَاءٌ...
“Setiap anak adam (manusia) berbuat
kesalahan…”(H.R. At-Tirmidzi)
Hanya para Rasul yang senantiasa
dituntun Allah ta’ala dalam tindakan dan perbuatan mereka sehingga
terselamatkan dari dosa, dan diantaranya adalah Nabi tauladan kita, Nabiyullah
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman :
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى ! وَمَا يَنطِقُ
عَنِ الْهَوَى ! إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat
dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa
nafsunya, Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”
(Q.S. An-Najm: 2-4).
Oleh karena itu, Islam sebagai
agama yang sesuai fitrah manusia memberikan solusi bagi orang-orang yang
melakukan dosa, yaitu taubat. Tidak ada lagi perbuatan terbaik bagi pendosa
kecuali bertaubat. Inilah yang dituntunkan junjungan kita Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:
...
وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّبُوْنَ
“… dan sebaik-baik orang yang bersalah
adalah yang bertaubat.” (H.R. At-Tirmidzi)
Jama’ah shalat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu
wata’ala,
Taubat berasal dari kata تَوْبا - يَتُوْبُ
- تَابَ - تَوْبَةً taaba – yatuubu – tauban - taubatan
yang artinya adalah ruju’ atau kembali, yaitu “kembali dari perbuatan maksiat
menuju perbuatan taat.”
Diibaratkan seseorang yang
melakukan perjalanan kemudian tersesat, jika dia meneruskan perjalanannya maka
dia akan semakin tersesat. Langkah terbaik yang harus dia lakukan adalah
merubah arah kembali ke jalan semula dan melanjutkan perjalanan ke arah yang
benar.
Seseorang bisa kembali lagi ke
jalan yang benar atau bertaubat, setidaknya, jika memenuhi tiga syarat.
Pertama, mengetahui dan meyakini
bahwa dirinya telah menempuh jalan yang salah atau tersesat, baik tahu dari
dirinya sendiri atau diberitahu orang lain. Seseorang bisa melakukan taubat
jika dia mengetahui bahwa dirinya telah melakukan perbuatan salah atau dosa.
Jika seseorang tidak mengetahui kesalahannya, mustahil dia bisa kembali ke
jalan yang benar. Dia akan terus berkubang dalam dosa dan kesesatannya.
Kesadaran bahwa seseorang telah berbuat salah ditunjukkan oleh hatinya melalui
penyesalan, dan ditunjukkan oleh lisannya dengan mengucapkan kalimat istighfar.
Sebagaimana penyesalan dan istighfar Nabi Adam ‘alaihissalam dan isterinya
ketika melanggar larangan Allah ta’ala.
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Adam dan Hawa berkata: "Ya
Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk
orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al A’raf : 23).
Untuk itu dibutuhkan ilmu bagi
seorang Muslim untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah supaya
dirinya bisa bertaubat. Selain itu, juga dibutuhkan kerendahan hati yang
mendorong dirinya bersedia bertaubat setelah melakukan kesalahan. Dalam sebuah
riwayat yang dinisbatkan kepada Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau
mengajarkan untuk melantunkan doa:
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Artinya:” Ya Allah Tunjukilah
kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami
kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya.”
Jama’ah shalat Jum’at yang
dirahmati Allah subhanahu wata’ala.
Kedua, bersedia memutar arah,
kembali meniti jalan yang benar. Taubat bisa diwujudkan dalam diri seseorang
jika dia, dengan rendah hati, bersedia berjalan kembali ke arah yang benar.
Memang taubat akan selalu
menemui halangan dan hambatan. Bisa jadi, cibiran dan cemoohan masyarakat hadir
menyertai perjalanan taubatnya. Bahkan yang lebih menyakitkan, lingkungan baru
yang ingin dia masuki, terkadang menunjukkan sikap penolakan. Semua itu harus
dilalui bagi orang yang hendak sungguh-sungguh bertaubat.
Itulah yang dialami Nabi Adam
‘alaihissalam ketika berjalan menuju taubatnya; dibuang dari surga, berjalan
tertatih-tatih di dunia dan terpisah dari isteri tercinta. Sampai akhirnya
Allah-pun menerima taubatnya.
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ
لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ
فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى
Allah berfirman kepada Adam dan
Hawa: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi
musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku,
lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan
celaka. (Q.S.Thaha: 123)
Jama’ah shalat Jum’at yang
dirahmati Allah subhanahu wata’ala.
Ketiga, mengetahui jalan yang
benar untuk melanjutkan perjalanan dan berhati-hati terhadap godaan. Seseorang
yang sudah bertaubat sekalipun tidak serta merta terbebas menjalani hidup tanpa
godaan. Iblis, bersama hawa nafsu, tidak akan pernah berhenti menggoda supaya
kita kembali menjalani perbuatan dosa dan kesalahan, sebagaimana yang dulu
pernah dilakukan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala mengingatkan
hamba-Nya untuk selalu berhati-hati, jangan sampai kembali tergoda melakukan
dosa yang sama.
...
وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ
يَعْلَمُونَ
“…Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imran: 135)
Betapa mulia sikap seorang
Muslim yang berani bertaubat, yaitu berani kembali ke jalan yang benar dengan
menghadapi semua rintangan dan hambatannya. Wajarlah jika Allah subhanahu
wata’ala memuliakan orang yang bertaubat.
Jam’ah shalat Jumat yang
dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Sebenarnya, tidak ada kata
terlambat untuk bertaubat. Tidak boleh ada keengganan bagi seseorang untuk
bertaubat dengan alasan apapun, seperti sudah terlanjur banyak dosa, usia telah
lanjut, Allah tidak mungkin mengampuni, dan alasan-alasan lainnya. Barangsiapa
yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, pasti Allah akan mengampuni
dosa-dosanya. Allah ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى
أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku
yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar:
53).
Taubat seorang hamba baru
dianggap terlambat oleh Allah subhanahu wata’ala ketika berada dalam dua
keadaan.
Pertama, taubat ditolak ketika
seseorang sudah berada dalam keadaan sakaratul maut. Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya
Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di
tenggorokan”.(HR. At-Tirmidzi)
Kedua, taubat tidak akan diterima ketika matahari
terbit dari sebelah barat.
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ
مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ.
“Barangsiapa taubat sebelum matahari terbit
dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya” (H.R. Muslim).
Jama’ah shalat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu
wata’ala,
Dengan taubat yang
sungguh-sungguh inilah, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, melimpah berkah
dan ridha-Nya serta akan memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh dengan
kenikmatan. Untuk itu, mari kita semua segera bertaubat, jangan sampai
terlambat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ
هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar