Jumat, 16 Agustus 2019

Khutbah Idul Adha Terbaik


Khutbah idul adha
اَ السَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَتُ الله وَ بَرَكَاتُهُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.
Jama’ah sholat idul adha yang di muliakan Allah
Hari ini adalah hari yang mulia, hari yang diberikan oleh Allah tuhan kita semua, dialah Allah yang maha sempurna, dialah Allah yang maha perkasa yang maha kuat, yang perkasa selain Allah yang kuat selain Allah, lemah. Dialah Allah subhanahu wa ta’ala raja yang menguasai segala kekuasaan, yang raja selain allah, budak. Dialah Allah yang maha besar yang besar selain Allah, kecil. Dialah Allah yang maha kaya dari segala sesuatu yang kaya, yang kaya selain Allah, miskin. Dialah Allah yang maha hidup, yang hidup selain Allah pasti akan mati. Yang ada selain Allah pasti akan tiada, yang wujud selain Allah pasti akan binasa. Sedangkan wujudnya Allah adanya Allah selama-lamanya kekal abadi tidak akan pernah musnah dan tidak akan pernah binasa.
Dialah allah yang dimana kedekatan hamba dengannya tidak akan membuat hamba setara dengannya, jauhnya hamba darinya tidak akan membuat dinding penghalang antara hamba dengannya. Dialah Allah yang dimana walaupun seluruh hamba hamba dari awal zaman sampai akhir zaman semuanya berbuat baik, tidak akan menambahkan sedikitpun keagungan disisnya.  Dan dialah Allah yang dimana walaupun seluruh hamba hamba dari awal zaman sampai akhir zaman semuanya berbuat dosa, tidak akan mengurangi sedikitpun keagungan di sisinya. Dan dialah Allah yang pada hari yang mulia ini di tempat yang penuh barokah ini, Allah subhanahu wa ta’ala sedang memandang kita semua yang duduk di tempat ini. Allah pandang dengan pandangan rahmat Allah pandang dengan pandangan kasih sayang, Allah pandang dengan pandangan pengampunan.
Jama’ah idul adha yang dimuliakan Allah
Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas dari kisah Nabi Ibrahim ketika allah perintahkan untuk menyembelih anaknya ismail.  Sejarah yang sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail (‘alaihissalâm). Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun karena istrinya sekian lama mandul. Dalam Surat ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi Ibrahim berdoa:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ.
 “Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”
Allah lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas dan sabar (ghulâm halîm). Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."
Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke suatu tempat. Lalu Ibrâhîm membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan siap disembelih.
Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullâh,
Atas kehendak Allah, penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman dalam ayat berikutnya:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (Q.S. Ashaffat 106-111)
Dari kisah mulia tersebut yang bisa mendapatkan kerdhoan Allah  bukanlah daging atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari yang  memberi kurban. Allah subhanahu wata’ala berfirman
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Al-Hajj: 37)
Hadirin yang di muliakan Allah,
Ibadah kurban tahunan yang umat Islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari kisah tersebut. Setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tarik dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan hewan kurban secara umum.
Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla. Nabi Ibrahim yang mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah) mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangganya. Lewat perintah menyembelih Ismail, Allah seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak hanyalah titipan. Anak betapapun mahalnya kita menilai tak boleh melengahkan kita bahwa hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan ketaatan.
Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan diri.
Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia, mampu membuktikan diri sebagai anak yang berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya. Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi panggilan Tuhannya.
Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,
Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia adalah hal yang diharamkan.
Manusia dengan manusia lain sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan. Allah subhanah wa ta’ala berfirman :
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya.
Pengorbanan merupakan bukti dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila masing-masing manusia hanya memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini. Sebab, keserakahan adalah sifat yang dimiliki oleh para binatang. Di sinilah perlunya kita “menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah, karena esensi kurban adalah solidaritas sesama dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa ta’ala
Maka dengan datangnya hari yang berkah ini mari kita tingkatkan kedekatan kita kepada allah, serta kita perbaiki hubungan kita dengan sesama manusia sehingga kita menjadi manusia yang bertakwa dalam pandangan  Allah mulai pada hari ini hingga kita wafat kembali ke hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Mari kita bersama sama menadahkan tangan kita seraya berdoa kepada allah subhanahu wa ta’ala.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ اَللّهُمَّ صَلِّي وَ سَلِّم عَلَ رَسُولِكَ الاَمِين نَبِيِّكَ الكَرِيم مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيهِ وَ سَلَّم. اَللَّهُمَّ نَسْاَلُكَ يَا رَبَّ لعَالَمِين بِاَسْمَا اِكَ لْحُسنَ وَ سِفَا تِكَ العُولَا. اَللَّهُمَّ يَلغَفُور رَبَّنَا لَاتَدَعلَنَ فِى مَقَامً هَذَ وَ فِى كُلِّ مَقَامً ذَنبً اِلَّا غَفَرتَ
Duhai Allah kami bermohon padamu ya rabb jika di hari ini ada satu diantara kami yang datang ke masjid ini masih membawa lumuran dosa, maka mohon ya Allah dengan ikhtiar sholat yang ia tunaikan gugurkan dan ampuni segala dosa-dosanya.
اَللَّهُمَّ وَلاَ هَمًّ اِلَّا فَرَّجْتَ
Wahai Allah jika ada yang datang ke masjid ini ya rabb membawa kegelisahan dalam jiwanya jangan biarkan ia meninggalkan masjid ini kecuali telah engkau tenangkan keadaan hatinya.
اَللَّهُمَّ وَلاَ عَاسِرً اِلَّا يَسَّرتَ
Duhai Allah jika ada yang datang ke masjid ini membawa kesulitan dalam hidupnya, di rumah tangganya, di kehidupan sosialnya, di pekerjaannya, dengan sholat yang ia tunaikan ya rabb jangan biarkan ia meninggalkan masjid ini kecuali ya Allah engkau telah mudahkan dan angkat segala kesulitannya.
اَللَّهُمَّ وَلاَ مَرِيضً اِلَّا شَفَيتَ
Duhai Allah jika ada di antara kami ya rabb yang datang ke masjid ini atau di antara keluarganya, kerabatnya, yang engkau uji dengan penyakit seberat apapun ya rabb maka mohon di hari yang berkah ini mohon angkat dan sembuhkan segala jenis penyakitnya.
اَللَّهُمَّ يَا اَرحَمَ الرَّحِيمٍ تُبنَ اِلَيكَ يَا رَبَّ العَالَمِين. فِى هَذِهِ اليَومِ. اَللَّهُمَّ يَا الله اِذَ ا كَنَ هُنَلِكَ بَقِيَّاتُ حَيَاتِنَا يَا رَبْ فَجعَل حَيَاتَنَا حَيَاتً طَيِّبَة حَتَّ نَعُودَ اِلَيكَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
Ya Allah jika ada waktu tersisa setelah hari ini dalam kehidupan kami, maka mohon bimbing kami untuk berubah ya Allah, jadi hamba yang lebih baik dalam pandanganmu, baik menjalani kehidupan sampai kami kembali wafat kehadapanmu ya rabb.
وَ اِذَا كَنَ هَذِهِ اليَومَ يَا رَبَّ العَلَمِينَ اَخِرُ حَيَاتِنَا. فَجعَل حَيَاتَنَا يَا الله حَيَاتً طَيِّبَة وَ مَمَتَنَا اليَومَ حُسنُ الخَاتِمَة قَو لِسَانَا يَا الله لِتَقُول كَلِمَةَ تَوحِد لَا اِلَهَ اِلَّا الله لَا اِلَهَ اِلَّا الله مُحَمَّدَ رَّسُولُ الله فِى سَكَرَا تٍ فُتِنَ
Ya Allah jika memang hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupan kami dan hari ini kami mesti wafat kembali kepadamu maka mohon ya Allah, jadikan akhir kehidupan kami di hari ini husnul khotimah, kuatkan lisan kami untuk mengucapkan kalimat tauhid di akhir kehidupan kami,  Laa Ilaha Illallah, La Ilaha Illallah, Muhammadarrasulullah. Dan engkau jawab dengan kalimat yang menenangkan
     ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً     . يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
اَللَّهُمَّ نصُرنَ مِن هوَانَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ. اَللَّهُمَّ نصُرنَ مِنَ الشَّيطَنِ الرَّجِيم. اَللَّهُمَّ نصُر اِخوَتَنَ فِى كُلِّ مَكَنَ
Duhai Allah kami mohon ya rabb anugrahkan pertolongan kepada kami dari hawa nafsu kami dari pengaruh setan dan mohon tolong saudara-saudara kami di segala tempat ya rabbal ‘alamin.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ .
Ya Allah janganlah engkau jadikan kami hamba yang merugi, yaitu hamba yang tak mendapatkan ampunanmu, hamba yang menjauh dari rahmatmu, dosa kami begitu banyak sehingga menutup hati kami, akan tetapi engkau adalah tuhan yang maha pengampun, tuhan yang rahmatmu, kasih sayangmu meliputi seluruh makhlukmu, maka dari itu yaallah terimalah taubat kami di pintu gerbang ampunanmu.
 رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبحَنَ رَبِّكَ رَبِّى عِزَّةِ عَمَّ يَسِيفُونَ وَسَّلَامٌ عَلَ المرسَلِين والْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْن
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
اَ السَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَتُ الله وَ بَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

khutbah Idul Fitri Paling Menyentuh

Khutbah Idul Fitri Pesan Pesan Penting Di Momen Idul Fitri Oleh : Binto, S.Pd اَ لسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَتُ للّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ ...