Jumat, 16 Agustus 2019

Makalah Pendidikan Karakter - Hubungan nilai dan karakter dan filsafat


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya mengalami proses pendangkalan nilai yang seharusnya dimiliki serta dihayati dan dijunjung tinggi. Nilai-nilai itu kini bergeser dari kedudukan dan fungsinya serta digantikan oleh keserakahan, ketamakan, kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Dengan pergeseran fungsi dan kedudukan nilai itu, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dirasakan semakin hambar dan keras, rawan terhadap kekerasan, kecemasan, bentrok fisik (kerusuhan) dan merasa tidak aman.
Dengan demikian, salah satu problematika kehidupan bangsa yang terpenting di abad ke-21 adalah nilai moral dan akhlak. Kemerosotan nilai-nilai moral yang mulai melanda masyarakat kita saat ini tidak lepas dari ketidakefektifan penanaman nilai-nilai moral, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat secara keseluruhan. Efektivitas paradigma pendidikan nilai yang berlangsung di jenjang pendidikan formal hingga kini masih sering diperdebatkan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Hubungan antara Nilai dan Karakter dengan Filsafat ?
2.      Bagaimana Hubungan antara pendidikan Nilai dan karakter dengan Ilmu Pengetahuan ?
C.    Tujuan Penulisan
1.      mengetahui Hubungan antara Nilai dan karakter dengan Filsafat
2.      mengetahui Hubungan antara Pendidikan Nilai dan karakter dengan Ilmu Pengetahuan




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hubungan antara Nilai dengan Filsafat
1.      Nilai
Nilai secara etimologi merupakan pandangan kata value (bahasa inggris) yang berbasi moral (moral value). Dalam kehidupan sehari-hari, kata Nilai merupakan sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas dan berguna bagi manusia. Dalam pembahasan ini kata nilai merupakan kualitas yang berbasis moral. Istilah ini dalam filsafat dipakai untuk menunjukkan kata benda abstrak yang artinya keberhargaan  yang setara dengan berarti atau kebaikan.
Dari sudut pandang terminologi nilai dapat diartikan berdasarkan difinisi tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.sebagai berikut
Muhmidayeli mendefenisikan nilai adalah gambaran tentang sesuatu yang indah menarik yang mempesona, menakjubkan, yang membuat kita bahagia, senang dan merupakan sesuatu yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang memilikinya. Nilai dapat juga diartikan dalam makna benar-salah, baik-buruk, manfaat atau berguna, indah dan jelek.[1]
Nilai secara umum, sebagaimana yang didefinisikan oleh Hamka dengan standard atau ukuran (norma) yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu.[2] Jadi , Kehidupan dalam dunia ini merupakan sesuatu yang sangat bernilai namun dalam kenyataannya setiap yang bernilai itu mempunyai lapisan dan aspek yang berbeda – beda. Dalam memahami nilai itu kita harus sadar akan nilai itu sendiri yang ada pada manusia.
2. Karakter
Karakter merupakan unsur pokok dalam diri manusia yang dengannya membentuk karakter psikologi seseorang dan membuatnya berperilaku sesuai dengan dirinya dan nilai yang cocok dengan dirinya dalam kondisi yang berbeda-beda.Berbagai definisi istila atau term dari karakter itu sendiri para tokoh dan ulama telah menjelaskannya, diantaranya adalah sebagai berikut: Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti "to mark" (menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara seoarang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitanya dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya sesuai dengan kaidah moral.[3]
 Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun yang dimaksud berkarakteradalah berkepribadian, beperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Sebagian menyebutkan karakter sebagai penilaian subjektif terhadap kualitas moral dan mental, sementara yang lainya menyebutkan karakter sebagai penilaian subjektif terhadap kualitas mental saja, sehingga upaya mengubah atau membentuk karakter hanya berkaitan dengan stimulasi terhadap intelektual seseorang. Coon mendefinisikan karakter sebagai suatu penilain subjektif terhadap kepribadiaan seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadiaan yang dapat atau tidak dapat di terima oleh masyarakat. Karakter berarti tabiat atau kepribadian. Karakter merupakan keseluruhan disposisi kodrati dan disposisi yang telah di kuasai secara stabil yang mendefinisikan seseorang individu dalam keseluruhan tata perilaku psikisnya yang menjadikannya tipikal dalam cara berpikir dan bertindak.[4]
Dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter, Prof. Suyanto, Ph.D. menjelaskan bahwa "karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara". Dalam istilah psikologi, yang disebut karakter adalah watak perangai sifat dasar yang khas satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi.[5]
3.       Filsafat
Secara etimologi filsafat berasal dari dua kata pokok yaitu: philo dan shopia.Kata Philo berarti cinta atau sahabat, dan Sophia berarti kebijaksanaan, kearifan dan pengetahuan. Sehingga kat filsafat berarti cinta kebijaksanaan, cinta kearifan, cinta pengetahuan, atau sahabat pengetahuan, sahabat bijaksana, dan sahabat kearifat.
Secara terminologi filsafat dapat dia artikan dengan kegiatan berpikir secara bijak,arif,sistematis,menyeluruh dan logis terhadap sesuatu. Jadi menurut Nina W. Syam dalam sebuah bukunya Dr.Mustari Mustafa mengatakan bahwa berfilsafat pada dasarnya adalah perenungan yang mendalam mengenai sesuatu yang dia anggap atau dinilai bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Filsafat adalah usaha untik mengetahui sebaga sesuatu. ‘ada’ (being) merupakan implikasi dasar. Jadi, segala sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti ‘ada’. Filsafat mempunyai tujuan untuk membicarakan kaber-‘ada’an. Filsafat juga membehas lapisan terahir dari segala sesuatu atau membahas masalah yang paling mendasar.
Tujuan filsafat adalah mencari hakekat dari sesuatu objek atau gejala secara mendalam, sedangkan dalam filsafat nilai membicarakan hakekat nilai tertentu, untuk masuk kepada hakekat sesuatu, filsafat nilai  disini menjadi fokusnya filsafat. Filsafat juga bersifat integral  yang berarti mempunyai kecenderungan untuk memperoleh pengetahuan yang utuh sebagai suatu keseluruhan. Sehingga filsafat memendang objeknya secara utuh.[6]

4.      Hubungan Filsafat dengan Nilai dan Karakter
Dalam filsafat nilai juga disebut sebagai Aksiologi. Sebagai cabang filsafat yang memperlajari nilai estetika dan etika terhadap hasil dari pengetahuan. Aksiologi ini juga merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai terhadap persoalan kefilsafatan, nilai yang dimaksud adalah nilai guna, nilai fungsi dan nilai manfaat.[7]
Berbicara hubungan filsafat dengan nilai merupakan sesuatu yang tak bisa di pisahkan, karena nilai merupakan bagian dari filsafat atau cabang dari filsafat yang membahas mengenai nilai-nilai yang ada dalam filsafat itu sendiri yaitu nilai etika,etiket, norma dan nilai estetika yang keduanya membutuh pemikiran secara mendalam untuk mendapatkan hakikat dari nilai-nilai itu.
a.       Etika merupakan ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
b.      Estetika, juga biasa disebut dengan filsafat keindahan. Dimana membahas mengenai norma atau nilai indah dan tidak indah. Objelk dari estetika adalah pengalaman akan keindahan. Dalam estetika yang dicari adalah hakekat dari keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani dan keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni).
Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik. Baik pada diri seseorang maupun pada saat suatu masyarakat atau kelompok masyarakat. Yang berarti etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik,dan segala kebiasaan yang dianut diwariskan dari satu orang ke orang lain. Dengan kata lain, etika adalah nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok dalam mangatur tingka lakunya.
Sedangkan filsafat merupakan nilai dimana filsafat mencoba memberikan pemahaman secara mendalam tentang sesuatu yang dia anggap atau dinilai bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jadi jelas hubungan antara nilai dengan filsafat tidak bisa terpisahkan. Filsafat nilai adalah cabang yang membahas nilai secara filosof atau kefilsafatan, mendasar, menyeluruh, sistematis sampai pada hakekat nilai itu sendiri untuk mendapatkan kebenaran sesuai dengan kenyataan.[8]
Selain itu ada juga masalah relatif dan Absolut. Nilai relative terganutng pada yang menilai nilai menjadui penting dalam  kehidupan manusia, menjadi pegangan dan prinsip hidup, sehingga dapat mempengaruhi tindakannya. nilai dapat dimengerti sebagai norma atau pegangan yang mengarahkan manusia pada perbuatan-perbuatanyang terpuji. Perbuatan manusia tersebut mengarah pada kebahagiaan bagi dirinya. Sedangkan nilai absolut tidak bisa diubah atau diganggu gugat, ada pada dirinya sendiri. Tidak ada yang mengungguli, sifatnya tetap. Misalnya tuhan maha adil, maha pengasih. Dengan nilai absolut tersebut maka sesungguhnya nilai-nilai itu menjadisuatu hakekat universal yang kita jadikan sebagai standar untuk menilai berbagai hal sesuai dengan porsi hakekat, kebaikan dan keindahan wujudnya, baik dalam jiwa atau dalam realitas nyata.
Selain kaitannya dengan nilai etika dan estetika, aksiologi berorintasi kepada asas manfaat atau tujuan, yaitu bagaimana filsafat  nilai mampu memberi pemecahan terhadap persoalan-persoalan baik dalam kaitannya dengan persoalan kehidupan manusia, maupun asan manfaat bagi pengembangan interdisipliner dalam filsafat nilai. Ada yang beranggapan bahwa tujuan ilmu pengetahuan sebagai upaya para peneliti menjadikan alat untuk menambah kehidupan kesenangan manusia dalam kehidupan yang terbatas dimuka bumi. Sebagai lagi diorientasikan sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan baik bersifat objektif maupun subjektif.
B.     Hubungan antara Pendidikan Nilai dan Karakter dengan Ilmu Pengetahuan
1.      Ilmu Pengetahuan 
Ilmu Pengetahuan  berasal dari kata bahasa Inggris yakni science, yang berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu pengetahuan mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematik. Dalam bahasa Jerman dikenal wissenschaft.
The Liang Gie (1987) memberikan pengertian ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin di mengerti manusia.
Sedangkan pengetahuan (knowledge) yang dapat dikenali (identify), dapat diterangkan (explain), dapat dilukiskan (describe), dapat diperkirakan (predict), dapat dianalisis (diagnosis), dan dapat diawasi (control) akan menjadi suatu ilmu (science). 
Dari pendapat diatas, maka setiap ilmu sudah pasti pengetahuan, tetapi setiap pengetahuan belum tentu sebagai ilmu. Kemudian syarat yang paling penting untuk keberadaan suatu pengetahuan disebut ilmu adalah adanya objek. Pengetahuan yang bukan ilmu dapat saja berupa pengetahuan tentang seni dan moral.
Ada tiga kategori pengetahuan yang perlu kita kenal, yakni :
a.       Pengetahuan inderawi (knowledge) yang meliputi semua fenomena yang dapat dijangkau secara langsung oleh pancaindera. Batas pengetahuan ini adalah segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh pancaindera.  Ia merupakan tangga untuk melangkah ke ilmu. 
b.      Pengetahuan keilmuan (science) yang meliputi semua fenomena yang dapat di teliti dengan riset atau eksperimen, sehingga apa yang ada di balik knowledge bisa terjangkau. Batas pengetahuan ini adalah segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh rasio dan pancaindera. 
c.       Pengetahuan falsafi yang mencakup segala fenomina yang tak dapat diteliti, tapi dapat dipikirkan. Batas pengetahuan ini adalah alam, bahkan bisa menembus apa yang ada di luar alam yakni Tuhan.
Kalau kita kaji lebih jauh dan mendalam, ternyata ada dua hal yang nampaknya sepele dan sering kita temui dalam kenyataan sehari-hari, yakni tentang penyebutan antara ilmu dan ilmu pengetahuan. Apakah sama ataukah terdapat perbedaan mendasar dari dua istilah di atas ?
Dalam Webster’s New Collegiate Dictionary, tertulis dua istilah : knowledge dan science. Dari penjelasan Webster tersebut, dapat ditarik suatu pelajaran bahwa “knowledge” menjelaskan tentang adanya suatu hal yang diperoleh secara biasa atau sehari-hari (regularly) melalui pengalaman-pengalaman, kesadaran, informasi, dan sebagainya.   Sedangkan “science”, di dalamnya terkandung adanya pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematik, metodik, ilmiah, dan mencakup kebenaran umum mengenai objek studi yang lebih bersifat fisis (natural) 
Oleh sebab itu, sudah seharusnya ada tuntunan untuk pemberian nama, apakah ilmu ataukah Ilmu Pengetahuan, walaupun kedua hal itu adalah sama pentingnya dalam hidup dan kehidupan manusia. Ilmu membentuk daya intelegensia yang melahirkan adanya skill yang bisa mengkonsumsi setiap masalah. Sedangkan pengetahuan membentuk daya moralitas keilmuan yang kemudian melahirkan tingkah laku dan perbuatan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang tercakup di dalam tujuan akhir kehidupan manusia. 
2.      Pendidikan Nilai
Pendidikan Nilai adalah standar atau ukuran (norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu.  Menurut Scheler, nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda. Benda adalah sesuatu yang bernilai. Ketidaktertgantungan ini mencakup setiap bentuk empiris, nilai adalah kualitas a priori. Ketergantungan tidak hanya mengacu pada objek yang ada di dunia seperti lukisan, patung, tindakan, manusia, dan sebagainya, namun juga reaksi kita terhadap benda dan nilai.
3. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan gabungan dari dua kata, yaitu pendidikan dan karakter. Kita ketahui bahwa pengertian pendidikan begitu banyak versi yang menyebutkan. Salah satunya adalah Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Taman Siswa yang pertama tahun 1930 mengatakan bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak; dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya. Sedangkan pada Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Sedangkan istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang
Maka pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Pendidikan karakter melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). 
4.      Hubungan Ilmu Pengetahuan dengan Nilai
Ilmu pengetahuan berupaya mengungkapkan realitas sebagaimana adanya, sedangkan moral pada dasarnya adalah petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia. Hasil –hasil kegiatan keilmuan memberikan alternatif untuk membuat keputusan politik dengan berkiblat pertimbangan moral. 
Persoalannya disini adalah ilmu-ilmu yang berkembang dengan pesat apakah bebas nilai atau tidak ?. Bebas nilai disini sebagaimana dinyatakan oleh Josep Situmorang (1996) menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Paling tidak ada 3 faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu :
a.       Ilmu harus bebas dari berbagai pengandaian, yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya. 
b.      Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.
c.       Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal. 
Tetapi pertanyaannya sekarang adalah apakah ilmu pengetahuan mempunyai otonomi yang sedemikian mutlak lepas dari campur tangan pihak lain ? bagaimana jadinya  kalau ilmu pengetahuan dikembangkan secara sedemikian otonom sehingga pada akhirnya tidak memperdulikan berbagai nilai di luar ilmu pengetahuan dan pada akhirnya malah merugiakan manusia ? dan apa sesungguhnya tujuan dari ilmu pengetahuan  itu ? 
Ilmu Pengetahuan dan Nilai – menjawab pertanyaan ini, terdapat dua macam kecenderungan dasar dalam melihat tujuan ilmu pengetahuan tersebut. Pertama, kecenderungan puritan-elitis yang beranggapan bahwa tujuan akhir dari ilmu pengetahuan adalah demi ilmu pengetahuan, yakni mencari dan menemukan penjelasan-penjelasan yang benar tentang segala sesuatu. Tetapi bagi kaum puritan-elitis, kebenaran ilmiah dari penjelasan ini hanya dipertahankan demi kebenaran murni begitu saja dan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia.
Maka ilmu pengetahuan bagi mereka dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan. Kedua, kecenderunganpragmatis yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan demi mencari dan memperoleh penjelasan tentang berbagai persoalan dalam alam semesta ini. Ilmu pengetahuan memang bertujuan untuk menemukan kebenaran. Tetapi bagi mereka, ilmu pengetahuan tidak berhenti sampai di situ saja. Ilmu pengetahuan itu pada akhirnya berguna bagi manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam hidupnya.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pemaparan materi di atas maka dapatlah diambil beberapa kesimpulan, yaitu : Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu.
 Dalam konteks pembuktian atau justifikasi, ilmu pengetahuan tidak bisa bebas nilai. Sementara dalam konteks penemuan ilmu, demi alasan objektivitas, ilmu pengetahuan tentu bisa bebas nilai.

B.     Saran
Kita menyadari akan kekurangan dan kesalahan lumrah terjadi pada manusia, maka dari itu kita sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi sebuah progress untuk masa yang akan datang.














DAFTAR PUSTAKA

Frondizi, Risieri, Pengantar Filsafat Nilai, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar, 2001)
Hatta, Muhammad, Pengantar ke Jalan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: t.p. 1954)
Ismail, Farid Fuad, Cepat Menguasai Ilmu Filsafat, (Jogjakarta : IRCiSoD, 2003)
Keraf, A. Sony, Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan ‘Sebuah Tinjauan Filosofis’, (Yogyakarta:Kanisius, 2001)
Nasution, Andi Hakim, Pengantar ke Filsafat Sains, (Jakarta : Litera AntarNusa, 2008)
Salam, Burhanuddin, Logika Materiil; Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)
Syafie, Inu Kencana, Pengantar Filsafat, (Bandung : Refika Aditama, 2004)
Suriasumantri, Jujun S., Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta : Gramedia, 1978)
Saefuddin, Desekularisasi Pemikiran : Landasan Islamisasi, (Bandung : Mizan, 1998)
Suparlan, Suhartono,  Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2005)
Surajivo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009)
Sadulloh, Uyoh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2007) 



[1] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan ( Bandung : Refika Aditama, 2013), hal. 101
[2] Abd. Haris, Etika Hamka (Yogyakarta : LKiS, 2012), hal. 30
[3] Zubaedi, "Desain Pendidikan Karakter", (Jakarta : Kencana Prenada Media Group,2012, Cet.2, Hal. 12).
[4] Zubaedi, "Desain Pendidikan Karakter", (Jakarta : Kencana Prenada Media Group,2012, Cet.2, Hal. 8).
[5] Ramayulis, "Ilmu Pendidikan Islam", (Jakarta : Kalam Mulia Group,2012, Cet.9, Hal. 510).
[6] Suparlan, Suhartono,  Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2005)
[7] Suparlan, Suhartono,  Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2005)
[8] Surajivo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

khutbah Idul Fitri Paling Menyentuh

Khutbah Idul Fitri Pesan Pesan Penting Di Momen Idul Fitri Oleh : Binto, S.Pd اَ لسَّلَامُ عَلَيكُم وَ رَحمَتُ للّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ ...