BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bangsa Indonesia saat
ini tidak hanya mengalami proses pendangkalan nilai yang seharusnya dimiliki
serta dihayati dan dijunjung tinggi. Nilai-nilai itu kini bergeser dari
kedudukan dan fungsinya serta digantikan oleh keserakahan, ketamakan,
kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Dengan pergeseran fungsi dan kedudukan
nilai itu, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dirasakan semakin hambar dan
keras, rawan terhadap kekerasan, kecemasan, bentrok fisik (kerusuhan) dan
merasa tidak aman.
Dengan demikian, salah
satu problematika kehidupan bangsa yang terpenting di abad ke-21 adalah nilai
moral dan akhlak. Kemerosotan nilai-nilai moral yang mulai melanda masyarakat
kita saat ini tidak lepas dari ketidakefektifan penanaman nilai-nilai moral,
baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat secara keseluruhan.
Efektivitas paradigma pendidikan nilai yang berlangsung di jenjang pendidikan
formal hingga kini masih sering diperdebatkan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Hubungan antara Nilai dan Karakter dengan Filsafat ?
2.
Bagaimana Hubungan antara pendidikan Nilai dan karakter dengan Ilmu
Pengetahuan ?
C. Tujuan Penulisan
1.
mengetahui Hubungan antara Nilai dan karakter dengan Filsafat
2.
mengetahui Hubungan antara Pendidikan Nilai dan karakter dengan Ilmu
Pengetahuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hubungan antara Nilai dengan Filsafat
1.
Nilai
Nilai secara etimologi merupakan pandangan kata value (bahasa inggris) yang
berbasi moral (moral value). Dalam kehidupan sehari-hari, kata Nilai merupakan
sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas dan berguna bagi manusia.
Dalam pembahasan ini kata nilai merupakan kualitas yang berbasis moral. Istilah
ini dalam filsafat dipakai untuk menunjukkan kata benda abstrak yang artinya
keberhargaan yang setara dengan berarti atau kebaikan.
Dari sudut pandang terminologi nilai dapat diartikan berdasarkan difinisi tokoh-tokoh
yang ada di dalamnya.sebagai berikut
Muhmidayeli
mendefenisikan nilai adalah gambaran tentang sesuatu yang indah menarik yang
mempesona, menakjubkan, yang membuat kita bahagia, senang dan merupakan sesuatu
yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang memilikinya. Nilai dapat juga
diartikan dalam makna benar-salah, baik-buruk, manfaat atau berguna, indah dan
jelek.[1]
Nilai secara
umum, sebagaimana yang didefinisikan oleh Hamka dengan standard atau ukuran
(norma) yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu.[2]
Jadi , Kehidupan dalam dunia ini merupakan sesuatu yang sangat bernilai
namun dalam kenyataannya setiap yang bernilai itu mempunyai lapisan dan aspek
yang berbeda – beda. Dalam memahami nilai itu kita harus sadar akan nilai itu
sendiri yang ada pada manusia.
2. Karakter
Karakter merupakan unsur pokok dalam
diri manusia yang dengannya membentuk karakter psikologi seseorang dan
membuatnya berperilaku sesuai dengan dirinya dan nilai yang cocok dengan
dirinya dalam kondisi yang berbeda-beda.Berbagai definisi istila atau term dari
karakter itu sendiri para tokoh dan ulama telah menjelaskannya, diantaranya
adalah sebagai berikut: Kata karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti
"to mark" (menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai
kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu, seseorang
yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang
berkarakter jelek, sementara seoarang yang berperilaku jujur, suka menolong
dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat
kaitanya dengan personality (kepribadian) seseorang. Seseorang bisa disebut
orang yang berkarakter (a person of character) apabila perilakunya sesuai dengan
kaidah moral.[3]
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa
Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku,
personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun yang dimaksud
berkarakteradalah berkepribadian, beperilaku, bersifat, bertabiat, dan
berwatak. Sebagian menyebutkan karakter sebagai penilaian subjektif terhadap
kualitas moral dan mental, sementara yang lainya menyebutkan karakter sebagai
penilaian subjektif terhadap kualitas mental saja, sehingga upaya mengubah atau
membentuk karakter hanya berkaitan dengan stimulasi terhadap intelektual
seseorang. Coon mendefinisikan karakter sebagai suatu penilain subjektif
terhadap kepribadiaan seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadiaan yang
dapat atau tidak dapat di terima oleh masyarakat. Karakter berarti tabiat atau
kepribadian. Karakter merupakan keseluruhan disposisi kodrati dan disposisi
yang telah di kuasai secara stabil yang mendefinisikan seseorang individu dalam
keseluruhan tata perilaku psikisnya yang menjadikannya tipikal dalam cara
berpikir dan bertindak.[4]
Dalam tulisan bertajuk Urgensi
Pendidikan Karakter, Prof. Suyanto, Ph.D. menjelaskan bahwa "karakter
adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk
hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan
Negara". Dalam istilah psikologi, yang disebut karakter adalah watak
perangai sifat dasar yang khas satu sifat atau kualitas yang tetap terus
menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang
pribadi.[5]
3.
Filsafat
Secara etimologi filsafat berasal dari dua kata pokok yaitu: philo dan
shopia.Kata Philo berarti cinta atau sahabat, dan Sophia berarti kebijaksanaan,
kearifan dan pengetahuan. Sehingga kat filsafat berarti cinta kebijaksanaan,
cinta kearifan, cinta pengetahuan, atau sahabat pengetahuan, sahabat bijaksana,
dan sahabat kearifat.
Secara terminologi filsafat dapat dia artikan dengan kegiatan berpikir
secara bijak,arif,sistematis,menyeluruh dan logis terhadap sesuatu. Jadi
menurut Nina W. Syam dalam sebuah bukunya Dr.Mustari Mustafa mengatakan bahwa
berfilsafat pada dasarnya adalah perenungan yang mendalam mengenai sesuatu yang
dia anggap atau dinilai bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Filsafat adalah usaha untik mengetahui sebaga sesuatu. ‘ada’ (being) merupakan
implikasi dasar. Jadi, segala sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti
‘ada’. Filsafat mempunyai tujuan untuk membicarakan kaber-‘ada’an. Filsafat
juga membehas lapisan terahir dari segala sesuatu atau membahas masalah yang
paling mendasar.
Tujuan filsafat adalah mencari hakekat dari sesuatu objek atau gejala
secara mendalam, sedangkan dalam filsafat nilai membicarakan hakekat nilai
tertentu, untuk masuk kepada hakekat sesuatu, filsafat nilai disini
menjadi fokusnya filsafat. Filsafat juga bersifat integral yang berarti
mempunyai kecenderungan untuk memperoleh pengetahuan yang utuh sebagai suatu
keseluruhan. Sehingga filsafat memendang objeknya secara utuh.[6]
4.
Hubungan Filsafat dengan Nilai dan Karakter
Dalam filsafat nilai juga disebut sebagai Aksiologi. Sebagai cabang
filsafat yang memperlajari nilai estetika dan etika terhadap hasil dari
pengetahuan. Aksiologi ini juga merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki
hakekat nilai terhadap persoalan kefilsafatan, nilai yang dimaksud adalah nilai
guna, nilai fungsi dan nilai manfaat.[7]
Berbicara hubungan filsafat dengan nilai merupakan sesuatu yang tak bisa di
pisahkan, karena nilai merupakan bagian dari filsafat atau cabang dari filsafat
yang membahas mengenai nilai-nilai yang ada dalam filsafat itu sendiri yaitu
nilai etika,etiket, norma dan nilai estetika yang keduanya membutuh pemikiran
secara mendalam untuk mendapatkan hakikat dari nilai-nilai itu.
a.
Etika merupakan ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang
hak dan kewajiban moral
b.
Estetika, juga biasa disebut dengan filsafat keindahan. Dimana membahas
mengenai norma atau nilai indah dan tidak indah. Objelk dari estetika adalah
pengalaman akan keindahan. Dalam estetika yang dicari adalah hakekat dari
keindahan, bentuk-bentuk pengalaman keindahan (seperti keindahan jasmani dan
keindahan rohani, keindahan alam dan keindahan seni).
Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik. Baik pada diri seseorang
maupun pada saat suatu masyarakat atau kelompok masyarakat. Yang berarti etika
berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang
baik,dan segala kebiasaan yang dianut diwariskan dari satu orang ke orang lain.
Dengan kata lain, etika adalah nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi
pegangan seseorang atau sekelompok dalam mangatur tingka lakunya.
Sedangkan filsafat merupakan nilai dimana filsafat mencoba memberikan
pemahaman secara mendalam tentang sesuatu yang dia anggap atau dinilai
bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jadi jelas hubungan antara nilai dengan
filsafat tidak bisa terpisahkan. Filsafat nilai adalah cabang yang membahas
nilai secara filosof atau kefilsafatan, mendasar, menyeluruh, sistematis sampai
pada hakekat nilai itu sendiri untuk mendapatkan kebenaran sesuai dengan
kenyataan.[8]
Selain itu ada juga masalah relatif dan Absolut. Nilai relative terganutng
pada yang menilai nilai menjadui penting dalam kehidupan manusia, menjadi
pegangan dan prinsip hidup, sehingga dapat mempengaruhi tindakannya. nilai
dapat dimengerti sebagai norma atau pegangan yang mengarahkan manusia pada
perbuatan-perbuatanyang terpuji. Perbuatan manusia tersebut mengarah pada
kebahagiaan bagi dirinya. Sedangkan nilai absolut tidak bisa diubah atau
diganggu gugat, ada pada dirinya sendiri. Tidak ada yang mengungguli, sifatnya
tetap. Misalnya tuhan maha adil, maha pengasih. Dengan nilai absolut tersebut
maka sesungguhnya nilai-nilai itu menjadisuatu hakekat universal yang kita
jadikan sebagai standar untuk menilai berbagai hal sesuai dengan porsi hakekat,
kebaikan dan keindahan wujudnya, baik dalam jiwa atau dalam realitas nyata.
Selain kaitannya dengan nilai etika dan estetika, aksiologi berorintasi
kepada asas manfaat atau tujuan, yaitu bagaimana filsafat nilai mampu
memberi pemecahan terhadap persoalan-persoalan baik dalam kaitannya dengan
persoalan kehidupan manusia, maupun asan manfaat bagi pengembangan
interdisipliner dalam filsafat nilai. Ada yang beranggapan bahwa tujuan ilmu
pengetahuan sebagai upaya para peneliti menjadikan alat untuk menambah
kehidupan kesenangan manusia dalam kehidupan yang terbatas dimuka bumi. Sebagai
lagi diorientasikan sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan
bagi umat manusia secara keseluruhan baik bersifat objektif maupun subjektif.
B.
Hubungan antara Pendidikan Nilai dan Karakter dengan Ilmu Pengetahuan
1.
Ilmu
Pengetahuan
Ilmu
Pengetahuan berasal dari kata bahasa Inggris yakni science, yang berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti
mempelajari, mengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu pengetahuan
mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematik.
Dalam bahasa Jerman dikenal wissenschaft.
The Liang
Gie (1987) memberikan pengertian ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan
yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional
empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan
sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin di mengerti manusia.
Sedangkan
pengetahuan (knowledge) yang dapat dikenali (identify), dapat diterangkan (explain), dapat dilukiskan (describe),
dapat diperkirakan (predict), dapat dianalisis (diagnosis), dan dapat diawasi (control) akan menjadi suatu ilmu (science).
Dari
pendapat diatas, maka setiap ilmu sudah pasti pengetahuan, tetapi setiap
pengetahuan belum tentu sebagai ilmu. Kemudian syarat yang paling penting untuk
keberadaan suatu pengetahuan disebut ilmu adalah adanya objek. Pengetahuan yang
bukan ilmu dapat saja berupa pengetahuan tentang seni dan moral.
Ada tiga
kategori pengetahuan yang perlu kita kenal, yakni :
a. Pengetahuan
inderawi (knowledge) yang meliputi semua fenomena yang dapat
dijangkau secara langsung oleh pancaindera. Batas pengetahuan ini adalah segala
sesuatu yang tidak tertangkap oleh pancaindera. Ia merupakan tangga untuk
melangkah ke ilmu.
b. Pengetahuan
keilmuan (science) yang meliputi semua fenomena yang dapat di
teliti dengan riset atau eksperimen, sehingga apa yang ada di balik knowledge bisa terjangkau. Batas pengetahuan ini
adalah segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh rasio dan pancaindera.
c. Pengetahuan
falsafi yang mencakup segala fenomina yang tak dapat diteliti, tapi dapat
dipikirkan. Batas pengetahuan ini adalah alam, bahkan bisa menembus apa yang
ada di luar alam yakni Tuhan.
Kalau kita
kaji lebih jauh dan mendalam, ternyata ada dua hal yang nampaknya sepele dan
sering kita temui dalam kenyataan sehari-hari, yakni tentang penyebutan antara
ilmu dan ilmu pengetahuan. Apakah sama ataukah terdapat perbedaan mendasar dari
dua istilah di atas ?
Dalam
Webster’s New Collegiate Dictionary, tertulis dua istilah : knowledge dan science. Dari
penjelasan Webster tersebut, dapat ditarik suatu pelajaran bahwa “knowledge” menjelaskan tentang adanya suatu hal yang
diperoleh secara biasa atau sehari-hari (regularly) melalui
pengalaman-pengalaman, kesadaran, informasi, dan sebagainya.
Sedangkan “science”, di dalamnya terkandung adanya
pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematik, metodik, ilmiah, dan mencakup
kebenaran umum mengenai objek studi yang lebih bersifat fisis (natural)
Oleh sebab
itu, sudah seharusnya ada tuntunan untuk pemberian nama, apakah ilmu ataukah
Ilmu Pengetahuan, walaupun kedua hal itu adalah sama pentingnya dalam hidup dan
kehidupan manusia. Ilmu membentuk daya intelegensia yang melahirkan
adanya skill yang bisa mengkonsumsi setiap masalah.
Sedangkan pengetahuan membentuk daya moralitas keilmuan yang kemudian
melahirkan tingkah laku dan perbuatan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang
tercakup di dalam tujuan akhir kehidupan manusia.
2.
Pendidikan
Nilai
Pendidikan Nilai adalah standar atau ukuran (norma)
yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu. Menurut Scheler, nilai
merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda. Benda adalah sesuatu yang
bernilai. Ketidaktertgantungan ini mencakup setiap bentuk empiris, nilai adalah
kualitas a priori. Ketergantungan tidak hanya mengacu pada objek
yang ada di dunia seperti lukisan, patung, tindakan, manusia, dan sebagainya,
namun juga reaksi kita terhadap benda dan nilai.
3. Pendidikan Karakter
Pendidikan
karakter merupakan gabungan dari dua kata, yaitu pendidikan dan karakter. Kita
ketahui bahwa pengertian pendidikan begitu banyak versi yang menyebutkan. Salah
satunya adalah Ki Hadjar Dewantara dalam Kongres Taman Siswa yang pertama tahun
1930 mengatakan bahwa pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan
bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan
tubuh anak; dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar
kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak
yang kita didik selaras dengan dunianya. Sedangkan pada Undang-undang nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan negara.
Sedangkan istilah karakter secara
harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, yang antara lain berarti: watak,
tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Karakter
adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas
seseorang atau sekelompok orang
Maka pendidikan karakter merupakan
upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu
peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan
yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan
berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Pendidikan karakter melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling),
dan tindakan (action).
4.
Hubungan
Ilmu Pengetahuan dengan Nilai
Ilmu
pengetahuan berupaya mengungkapkan realitas sebagaimana adanya, sedangkan moral
pada dasarnya adalah petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia.
Hasil –hasil kegiatan keilmuan memberikan alternatif untuk membuat keputusan
politik dengan berkiblat pertimbangan moral.
Persoalannya
disini adalah ilmu-ilmu yang berkembang dengan pesat apakah bebas nilai atau
tidak ?. Bebas nilai disini sebagaimana dinyatakan oleh Josep Situmorang (1996)
menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah
agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan
menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Paling tidak ada 3 faktor sebagai indikator bahwa ilmu
pengetahuan itu bebas nilai, yaitu :
a. Ilmu harus
bebas dari berbagai pengandaian, yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti
faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya.
b. Perlunya
kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.
c. Penelitian
ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat
kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Tetapi
pertanyaannya sekarang adalah apakah ilmu pengetahuan mempunyai otonomi yang
sedemikian mutlak lepas dari campur tangan pihak lain ? bagaimana jadinya
kalau ilmu pengetahuan dikembangkan secara sedemikian otonom sehingga pada
akhirnya tidak memperdulikan berbagai nilai di luar ilmu pengetahuan dan pada
akhirnya malah merugiakan manusia ? dan apa sesungguhnya tujuan dari ilmu pengetahuan
itu ?
Ilmu
Pengetahuan dan Nilai – menjawab pertanyaan ini, terdapat dua macam
kecenderungan dasar dalam melihat tujuan ilmu pengetahuan tersebut. Pertama, kecenderungan puritan-elitis yang
beranggapan bahwa tujuan akhir dari ilmu pengetahuan adalah demi ilmu
pengetahuan, yakni mencari dan menemukan penjelasan-penjelasan yang benar
tentang segala sesuatu. Tetapi bagi kaum puritan-elitis, kebenaran ilmiah dari
penjelasan ini hanya dipertahankan demi kebenaran murni begitu saja dan untuk
memuaskan rasa ingin tahu manusia.
Maka ilmu
pengetahuan bagi mereka dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan. Kedua, kecenderunganpragmatis yang
beranggapan bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan demi mencari dan memperoleh
penjelasan tentang berbagai persoalan dalam alam semesta ini. Ilmu pengetahuan
memang bertujuan untuk menemukan kebenaran. Tetapi bagi mereka, ilmu
pengetahuan tidak berhenti sampai di situ saja. Ilmu pengetahuan itu pada
akhirnya berguna bagi manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi
dalam hidupnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pemaparan materi
di atas maka dapatlah diambil beberapa kesimpulan, yaitu : Nilai adalah
sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia.
Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan
manusia. Ilmu pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu,
atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu.
Dalam konteks pembuktian atau
justifikasi, ilmu pengetahuan tidak bisa bebas nilai. Sementara dalam
konteks penemuan ilmu, demi alasan objektivitas, ilmu pengetahuan tentu bisa
bebas nilai.
B.
Saran
Kita menyadari akan kekurangan dan kesalahan lumrah terjadi pada manusia,
maka dari itu kita sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi
sebuah progress untuk masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Frondizi,
Risieri, Pengantar Filsafat Nilai, (Yogjakarta : Pustaka Pelajar,
2001)
Hatta,
Muhammad, Pengantar ke Jalan Ilmu Pengetahuan (Jakarta:
t.p. 1954)
Ismail,
Farid Fuad, Cepat Menguasai Ilmu Filsafat,
(Jogjakarta : IRCiSoD, 2003)
Keraf, A.
Sony, Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan ‘Sebuah
Tinjauan Filosofis’, (Yogyakarta:Kanisius, 2001)
Nasution,
Andi Hakim, Pengantar ke Filsafat Sains,
(Jakarta : Litera AntarNusa, 2008)
Salam,
Burhanuddin, Logika Materiil; Filsafat Ilmu
Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)
Syafie, Inu
Kencana, Pengantar Filsafat, (Bandung : Refika Aditama, 2004)
Suriasumantri,
Jujun S., Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta :
Gramedia, 1978)
Saefuddin, Desekularisasi Pemikiran : Landasan Islamisasi,
(Bandung : Mizan, 1998)
Suparlan,
Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan,
(Jogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2005)
Surajivo, Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia,
(Jakarta : Bumi Aksara, 2009)
Sadulloh, Uyoh, Pengantar Filsafat Pendidikan (Bandung:
Alfabeta, 2007)
[1] Muhmidayeli, Filsafat
Pendidikan ( Bandung : Refika Aditama, 2013), hal. 101
[2] Abd. Haris, Etika
Hamka (Yogyakarta : LKiS, 2012), hal. 30
[3] Zubaedi, "Desain Pendidikan Karakter",
(Jakarta : Kencana Prenada Media Group,2012, Cet.2, Hal. 12).
[4] Zubaedi, "Desain
Pendidikan Karakter", (Jakarta : Kencana Prenada Media Group,2012, Cet.2, Hal.
8).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar