BAB I
PENDAHULUAN
Di dalam dua latihan pada bab ini, Anda dapat mengamati dua guru
kelas dua dengan gaya pengajaran yang sangat berbeda. Saat Anda mengamati
pelajaran mereka, ingatlah bahwa guru yang baik akan menciptakan dukungan
berupa suasana kelas-suasana psikologis umum di mana anak-anak merasa aman,
nyaman, dan bersedia mengambil risiko serta membuat kesalahan yang penting bagi
pembelajaran mereka. Ada tiga hal penting dalam suasana kelas yang mendukung:
a. Mengkomunikasikan kepedulian dan respek kepada siswa: Guru yang
efektif akan mengkomunikasikan kepedulian dan hormat kepada siswa melalui
hal-hal yang mereka lakukan setiap hari -menyapa siswa dengan hangat di lorong
sekolah, mau menjadi pendengar yang baik ketika siswa mempunyai masalah atau
keluhan, dan lain-lain. Tetapi yang lebih penting, guru mengkomunikasikan
kepedulian dan respek dengan persiapan mengajar yang baik, melakukan
scaffolding pada usaha siswa yang melakukan tugas yang menantang, memberikan
umpan balik yang membangun pada tugas kelas, dan dengan beragam cara
mendemonstrasikan keinginan untuk membantu siswa menguasai pelajaran sekolah.
b. Menetapkan batas: Guru yang efektif juga menetapkan batas yang
masuk akal dan arahan bagi perilaku siswa, dan batas tersebut diterapkan secara
konsisten untuk membantu siswa bertindak sesuai aturan dan petunjuk. Idealnya,
guru mengkomunikasikan rasa kekinian -sebuah perasaan yang membuat mereka sadar
apa yang mereka lakukan- melalui kata-kata dan tindakan mereka dan dapat
mengambil tindakan yang diperlukan jika siswa keluar dari batas.
c. Menciptakan rasa kebersamaan: Pada akhirnya, siswa harus
diberikan rasa kebersamaan - rasa bahwa semua anggota kelas berbagi tujuan yang
sama, dan harus saling menghormati dan mendukung usaha yang lain, dan percaya
bahwa semua orang memberikan kontribusi penting pada pembelajaran kelas.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif untuk Belajar
Secara umum, pengelolaan kelas (class management) berarti membangun
dan memelihara lingkungan kelas yang kondusif bagi pembelajaran dan prestasi
siswa. Siswa dapat belajar lebih banyak di beberapa lingkungan kelas
dibandingkan lingkungan kelas lainnya. Pengelolaan kelas yang efektif tidak
terlalu berkaitan dengan tingkat aktifitas atau keributan. Kelas yang diatur
dengan baik adalah kelas dimana siswanya selalu terlibat dalam aktivitas
belajar yang produktif dan perilaku mereka jarang menganggu tercapainya tujuan
pengajaran (Brophy, 2006; W. Doyle, 1990; Emmer & everston, 1981).
a. Mengatur Kelas
Pengelolaan yang baik dimulai sebelum hari pertama sekolah. Ada 4
strategi yang secara khusus dapat membantu:
- Aturlah perabotan dalam cara-cara yang mendorong interaksi siswa
dan ubahlah kalau ternyata malah kontraproduktif. Beberapa kelompok meja dan
kursi yang saling berhadapan sangat berguna untuk kelompok kecil, sedangkan
baris-baris tradisional seringkali lebih efektif untuk mengerjakan tugas
individual siswa (Carter & Doyle, 2006).
- Minimalkan kemungkinan distraksi (pengalihan perhatian).
- Sebagai guru kita harus mengatur kelas kita dalam cara-cara yang
menimbulkan kemungkinan terjadinya perilaku-perilaku yang tidak ada kaitannya
dengan pelajaran. Misalnya menempatkan siswa yang suka mengobrol di kursi
paling depan.
- Aturlah kelas sedemikian rupa sehingga kita mudah berinteraksi
dengan siswa.
- Identifikasilah lokasi-lokasi yang mempermudah pemantauan
perilaku siswa.
b. Membangun dan Mempertahankan Hubungan Guru-Siswa yang Produktif
Manusia tampaknya memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa terjalin
secara sosial dengan orang lain. Di kelas kebutuhan akan keterjalinan ini
mungkin terwujud dalam berbagai cara. Misalnya, siswa mungkin mencari
persetujuan/pengakuan kita untuk sesuatu yang telah mereka lakukan dengan baik.
Siswa lain mungkin berperilaku tidak patut untuk mendapatkan perhatian kita.
Strategi-strategi ini mungkin dapat membantu untuk menjalin hubunga
kerjasama yang produktif dengan siswa:
- Komunikasikan secara rutin kepedulian dan respek kepada siswa
sebagai individu.
- Ingatlah bahwa kepedulian dan respek melibatkanlebih dari sekedar
menunjukkan afeksi.
- Bekerjalah keras untuk memperbaiki hubungan yang terlanjur dingin
sejak awal pertemuan.
c. Menciptakan Iklim Psikologis yang Efektif.
Kita menginginkan suatu kelas dimana para siswanya merasa aman dan
nyaman, membuat pembelajaran menjadi prioritas yang tinggi, serta bersedia
mengambil resiko dan membuat kesalahan demi kesuksesan akademik jangka panjang
(Brand, Felner, Shim, Seitsinger & Duman, 2003; Hamre & Pianta, 2005).
Lingkungan seperti itu meminimalkan masalah-masalah disiplin dan tampaknya
penting bagi siswa yang beresiko mengalami kegagalan akademik dan drop-out dari
sekolah.
Berikut ini beberapa strategi untuk menciptakan lingkungan yang
seperti itu:
- Bangunlah suasana yang berorientasi tujuan, menyerupai bisnis,
namun tidak menakutkan.
- Komunikasikan dan tunjukan bahwa tugas sekolah dan pokok bahasan
akademik itu berharga
- Berilah siswa kesempatan untuk mengendalikan aktivitas-aktivitas
kelas.
- Minimalkan persaingan di antara para siswa.
- Tingkatkan rasa kebersamaan dan keterjalinan.
d. Menetapkan Batasan
Kelas tanpa panduan tentang perilaku yang tepat cenderung kacau dan
tidak produktif. Dan para siswa harus belajar bahwa perilaku-perilaku tertentu
tidak dapat ditoleransi, khususnya perilaku yang menyebabkan gangguan fisik
atau psikologis, merusak peralatan sekolah, atau mengganggu pembelajaran dan
performa siswa lain. Menetapkan batasan-batasan yang masuk akal dalam hal
perilaku di kelas bukan hanya meningkatkan lingkungan belajar yang lebih
produktif melainkan juga membantu mempersiapkan siswa menjadi anggota
masyarakat dewasa yang lebih produktif. Meski demikian ketika kita menetapkan
batasan kita harus ingat bahwa siswa lebih cenderung termotivasi secara
intrinsik untuk menguasai pokokb ahasan di kelas jika kita menjaga perasaan
otonomi dan self-determination mereka. Dengan mengingat hal ini, berikut kami
tawarkan rekomendasi:
- Tetapkan beberapa peraturan dan prosedur di awal tahun.
- Sajikan peraturan dengan cara yang informational ketimbang dengan
cara yang mengontrol.
- Tinjaulah secara periodik kegunaan peraturan dan prosedur yang
ada.
- Akuilah perasaan siswa tentang persyaratan-persyaratan di kelas.
- Tegakkan peraturan secara konsisten dan tidak pandang buta.
e. Merencanakan Aktivitas yang Membuat Siswa Fokus pada Tugas
Guru yang efektif merencanakan pelaksanaan pembelajaran (RPP)
mereka terlebih dahulu. Ketika mereka merencanakan, mereka tidak hanya berpikir
tentang bagaimana memfasilitasi pembelajaran siswa dan pemrosesan kognitif,
melainkan juga bagaiman memotivasi siswa untuk belajar. Ada berbagai macam
strategi untuk mengembangkan motivasi, khususnya motivasi intrinsic guna
menguasai pokok bahasan di kelas. Berikut ini adalah beberapa saran untuk
membuat siswa fokus pada tugasnya:
- Pastikan bahwa siswa selalu terlibat secara produktif dalam
kegiatan yang bermanfaat.
- Pilihlah tugas dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan
pengetahuan dan keterampilan siswa.
- Sediakan struktur untuk berbagai aktivitas dan tugas.
- Rencanakan masa transisi di hari sekolah.
- Memonitar apa yang dilakukan siswa
Guru yang efektif mengomunikasikan sesuatu yang disebut withitness:
mereka tahu__dan siswa mereka tahu bahwa mereka tahu_apa yang dilakukan siswa
sepanjang waktu di kelas. Guru-guru ini selalu memantau kelas dan sering
melakukan kontak mata dengan siswa secara individual. Mereka tahu kenakalan apa
yang terjadi ketika kenakalan tersebut terjadi, dan mereka tahu siapa pelakunya
(Gettinger & Kohler, 2006; T. Hogan, et.al. 2003; Kounin, 1970). Ketika
kita menunjukkan withitness semacam itu, khususnya di awal tahun ajaran, para
siswa cenderung tetap fokus pada tugasnya dan menunjukkan perilaku yang baik di
kelas. Maka tidak mengejutkan jika mereka juga lebih cenderung sukses di
tingkat yang lebih tinggi.
f. Memodifikasi Strategi Pengajaran
Penelitian memberitahukan bahwa ketika siswa berperilaku tidak
patut, para guru pemula sering terlalu fokus pada kesalahan siswa; sebaliknya,
guru yang berpengalaman lebih cenderung berpikir tentang apa yang dapat mereka
lakukan secara berbeda untuk membuat siswa tetap belajar, dan mereka
memodifikasi strategi pengajaran mereka berdasarkan hasil refleksi itu.
g. Mempertimbangkan Perbedaan Individual dan Perbedaan Perkembangan
Salah satu sumber perbedaan individual penting yang mempengaruhi
perilaku di kelas adalah temperamen (perangai) kecenderungan seorang siswa
untuk bersikap enerjetik, mudah
beradaptasi, mudah marah, impulsif, dan sebagainya. Perbedaan
perkembangan juga dalam batas tertentu harus menjadi pertimbangan kita dalam
proses menyusun strategi pengelolaan kelas. Banyak anak-anak di awal SD yang
belum cukup berpengalaman dengan pendidikan formal untuk mengetahui
peraturan-peraturan tidak tertulis yang melandasi interaksi di kelas.
B. Menyikapi Perilaku yang Tidak Sesuai
Sekalipun para guru sudah merencakan dan menyusun kelas supaya
lebih efektif dan produktif. Terkadang, bahkan mungkin selalu, akan terjadi
yang namanya misbehaviors. Misbehaviors adalah tindakan apapun yang mengganggu
pembelajaran dan aktivitas di kelas yang sudah direncanakan. Misalnya, tindakan
berbicara tidak sesuai dengan gilirannya, berkelahi dalam kelas, mengganggu
teman yang fokus belajar, dan tindakan-tindakan apapun yang dapat mengganggu
jalannya kegiatan belajar dan pembelajaran dalam kelas.
Siswa-siswa yang semacam ini akan menjadi tantangan besar bagi
seorang guru. Akan tetapi tidak lantas bagi seorang guru untuk menyerah dan
tidak peduli terhadap mereka. Oleh karena itu, guru harus mempersiapkan atau
merencanakan bagaimana menyikapi tindakan-tindakan misbehaviors tersebut dan
membawa mereka ke arah yang lebih baik dan produktif. Dalam hal ini, ada
beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh guru untuk menyikapi perilaku
kontra produktif tersebut.
a. Mengabaikan perilaku (ignoring behaviors)
Dalam beberapa kesempatan mengabaikan perilaku atau bertindak diam
mungkin akan lebih bijaksana. Sebab bisa jadi tindakan seorang guru untuk
menghentikan misbehaviors, walau hanya beberapa detik saja, akibatnya malah
tindakan penghentian tersebut yang mengganggu jalannya pembelajaran. Selain
itu, tindakan mengatasi misbehaviors, bisa memberikan penguatan terhadap
perilaku tersebut. Oleh karena itu, tindakan mengabaikan paling cocok dilakukan
ketika terjadi pada situasi yang bersifat ringan, sebagai berikut:
- Ketika perilaku jarang terjadi dan mungkin tidak akan diulangi
- Ketika perilaku tersebut tidak cenderung menular ke siswa yang
lain
- Ketika perilaku tersebut wajar bagi usianya
- Ketika hasil perilaku tidak cukup menyenangkan untuk mencegah
siswa mengulangi perilaku tersebut.
Sebagai contoh, seorang anak yang biasanya penurut dan jarang
melanggar peraturan di kelas, berbisik ke teman sebangkunya sementara guru
masih mengintruksikan untuk mengerjakan tugas sendiri-sendiri dan dengan
tenang.
b. Memberi isyarat kepada siswa (cueing)
Dalam beberapa keadaan, hanya memberikan isyarat kepada siswa yang
berperilaku misbehaviors lebih dari cukup daripada menghentikan jalannya
pembelajaran. Sebagai contoh ketika ada anak berbicara dengan teman sebangkunya
(tidak membicarakan tentang pelajaran) ketiak seorang guru sedang menjelaskan
beberapaa materi yang dianggap sulit. Untuk menanggapi perilaku yang tidak
sesuai ini lebih tepat jika seorang guru tersebut hanya memberikan isyarat
seperti sorotan mata, kedipan, atau bahasa tubuh lainnya yang bisa dilihat oleh
anak tersebut sebagai pertanda bahwa tindakannya adalah salah dan harus
dihentikan.
c. Membahas masalah secara pribadi dengan siswa
Berbicara secara pribadi dengan siswa sangatlah membantu untuk
menyelesaikan beberapa masalah misbehaviors. Hal ini dilakukan ketika
pengabaian masalah dan pemberian isyarat tidak memberikan perubahan terhadap
perilaku yang tidak sesuai.
Berbicara secara pribadi lebih baik dilakukan daripada harus
menegur langsung dalam kelas. Beberapa alasan yang mendasari hal tersebut,
yaitu: tindakan peneguran dalam kelas bisa jadi malah memberikan efek penguatan
bukan pelemahan. Peneguran dalam kelas juga dapat menyebabkan siswa malu atau
merasa terhina di depan teman-teman sekelasnya. Dan juga tindakan peneguran
dalam kelas malah mungkin akan menghabiskan banyak waktu sehingga siswa-siswa
yang lain cenderung akan tidak sesuai juga.
Dalam beberapa kasus, diskusi secara pribadi juga menjelaskan
beberapa alasan mengapa siswa melakukan hal yang tidak sesuai tersebut. Selain
itu, diskusi secara pribadi juga dapat mengisyaratkan petunjuka bagaimana cara
terbaik untuk menyelesaikan masalah serta dapat mengidentifikasi
perilaku-perilaku mal-adaptive yang dapat menjadikan alasan untuk merujuk ke
psikolog.
Akan tetapi, dalam diskusi secara pribadi tidak menutup kemungkinan
bahwa siswa akan memberikan penjelasan yang logis. Misalnya saja, alasan Tono
terlambat karena memang dia malas masuk ke kelas. Hal yang seperti ini sangat
penting jika seorang guru tidak tergoda untuk adu kekuatan –sikap tidak mau
kalah. Oleh karena itu ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk
meminimalkan adu kekuatan, sebagai berikut:
- Berbicara dengan tenang dan tidak berbelit-belit.
- Menerima secara empatik dan terbuka apa yang siswa jelaskan.
- Meminta klarifikasi penjelasan siswa jika dibutuhkan.
- Menjelaskan efek-efek dari perilaku yang tidak sesuai tersebut.
- Memberikan beberapa pilihan yang dapat diterima
- Mengidentifikasi solusi supaya siswa tidak kehilangan
kredibilitasnya di mata siswa lain.
- Pada akhirnya, kemukakan harapan dalam jangka panjang yang ingin
diraih dan keprihatinan bahwa tindakannya mengganggu hal tersebut.
d. Mengajarkan strategi self-regulation
Mengajarkan bagaimana caranya untuk mengatur diri pada siswa yang
bertindak tidak sesuai sangat penting. Terlebih siswa tersebut menyadari
kesalahan-kesalahannya dan siap untuk berubah. Beberapa cara yang dapat
dilakukan, antara lain:
- Self-monitoring atau pengawasan diri. Dalam hal ini dapat
dipratikkan dengan menggunakan lembar pengawasan pekerjaan siswa, seperti:
membaca buku, belajar selama satu jam, atau yang lainnya.
- Self-instruction. Instruksi diri dapat membantu siswa untuk
menahan diri (self-reistraint) dari perilaku yang tidak sesuai dalam kelas.
- Self-imposed contingencies atau pemberian penguatan dan hukuman
kepada diri sendiri sehingga dapat membantu dalam membangkitkan motivasi diri.
Misalnya: siswa memberikan hukuman kepada dirinya sendiri ketika tidak dapat
nilai yang baik pada mata pelajaran tertentu, atau juga sebaliknya.
e. Berunding dengan orang tua
Dalam beberapa kasus yang kronis (serius), berunding dengan orang
tua atau wali siswa sangat diperlukan. Karena mungkin saja orang tua tidak
mengetahui perilaku-perilaku yang tidak sesuai dari anakanya ketika di
lingkungan sekolahnya. Oleh karena itu, berkonsultasi dengan orang tua atau
sekedar melaporkan tindakan siswa kepada orang tua sangatlah membantu dalam
menyikapi perilaku siswa yang timbul di lingkungan sekolah.
f. Melakukan intervensi sistematik yang telah direncanakan
sebelumnya
Strategi ini dapat dilakukan ketika misbehavior yang dilakukan
siswa berlanjut terus menerus dan sangat mengganggu. Pendekatan-pendekatan lain
untuk menyikapi perilaku yang tidak sesuai juga sudah dilakukan, sementara itu
siswa yang misbehaviors tersebut juga tidak ada keinginan yang kuat untuk
berubah, dalam artian pengajaran pengaturan diri juga sudah diberikan.
Intervensi dapat dilakukan dengan menggabungkan beberapa strategi lainnya,
seperti mendorong kemampuan berpikir melalui sudut pandang orang lain,
mengajarkan kemampuan sosial, atau bisa juga menggunakan teknik-teknik behavior
(seperti: penguatan dan hukuman) dalam mengubah perilaku yang tidak sesuai
tersebut.
C. Menyikapi Agresi dan Kekerasan di Sekolah
Perilaku agresi dan tindak kekerasan tidak hanya terjadi dalam
masyarakat luas. Sekolah yang dinilai sebagai tempat paling aman juga sering
terjadi hal-hal tersebut. Sebagian besar perilaku agresi di sekolah melibatkan
luka psikologis seperti bully, juga luka fisik seperti perkelahian. Ada dua
sumber yang pasti sehingga memunculkan tindakan agresi. Pertama, anak remaja
sebagian besar waktunya memang dihabiskan di sekolah dari pada di tempat-tempat
yang lain. Kedua, dalam lingkungan sekolah tidak hanya satu ragam, akan tetapi
beraneka ragam. Terlepas dari semua itu, seharusnya kita tidak mentolerir
segala macam bentuk agresi yang terjadi dalam lingkungan sekolah.
a. Pendekatan tiga tingkat
- Tingkat pertama, menciptakan lingkungan sekolah tanpa kekerasan
Beberapa strategi yang dapat membantu untuk menciptakan lingkungan
sekolah tanpa kekerasan antara lain:
Bentuk hubungan seluruh civitas akademik yang saling peduli dan
saling percaya
Tegaskan para siswa untuk menaruh hormat yang tulus dan tanpa
pandang bulu
Libatkan siswa dalam pembuatan keputusan
Sediakan saran bagi siswa untuk menyalurkan pendapat
Tekankan perilaku prososial dan
Bentuk hubugan dengan masyarakat dan keluarga
Diskusikan masalaha keselamatan dengan terbuka, seperti: dampat
perilaku bullying, dan lain-lain.
- Tingkat kedua, melakukan intervensi sejak dini bagi siswa yang
berisiko
- Siswa yang berisiko mengalami kegagalan yang dimaksudkan disini
tidak hanya berfokus pada kegagalan akademik saja, akan tetapi juga berfokus
pada kegaglan sosial. Misalnya, tidak memiliki teman di lingkungan sekolah atau
sering di bully, dan yang lainnya. Intervensi dapat dilakukan melalui pelatihan
keterampilan sosial, ekstra kurikuler, atau mendorong untuk aktif dalamkegiata-kegiatan
sekolah. Intervensi akan lebih efektif jika dilakukan sejak dini, sebelum siswa
terlibat lebih jauh dengan perilaku antisosial.
- Melakukan intervensi yang intensif bagi siswa yang bermasalah
- Beberapa intervensi kecil mungkin tidak berpengaruh pada perilaku
agresi dan kekerasan. Oleh karena itu, intervensi yang intensif seperti bekerja
sama dengan komunitas-komunitas lain (psikolog, klinik kesehatan mental, dll)
sangat diperlukan untuk membantu mencegah siswa berperilaku agresi dan kekerasan.
Walau kita harus
selalu waspada terhadap gejala-gejala awal perilaku agresi yang
mungkin akan dilakukan oleh siswa, sangatlah penting bagi seorang guru untuk
tidak menggunakan tanda-tanda peringatan seperti menuduh, mengucilkan, atau
menghukum.
b. Masalah yang terkait dengan geng
Sumber agresi yang paling sering di beberapa lingkungan sekolah
adalah permusuhan antar kelompok atau geng. Dalam pendekatan tiga tingkat
sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, mungkin hanya mampu untuk menekan
aktivitas-aktivitas geng yang memerujuk pada perilaku kekerasan. Ada beberapa
saran tambahan dalam menangani permasalah terkait dengan geng, antara lain:
- Kembangkan, komunikasikan, tegakkan dengan jelas berkenaan dengan
ancaman potensial terhadap keselamatan siswa
- Identifikasi sifat khusus dan lingkup aktifitas geng di
tengah-tengah siswa
- Laranglah pakaian dan aksesoris yang berkaitan dengan geng
tertentu.
- Aktif dalam menengahi perselisihan antar geng atau dalam geng itu
sendiri, yaitu dengan cara mediasi, menjadi orang ketiga (penengah).
D. Mempertimbangkan Keberagaman Siswa
Dalam merencanakan kegiatan dalam kelas, seorang guru harus
memperhatikan kerakteristik dan kebutuhan siswa yang beraneka ragam. Pandangan
tentang beberapa budaya atau etnik tertentu bisa jadi sangat berbeda. Oleh
karena itu, pemahaman mengenai beberapa budaya dan etnik serta bersifat netral
sangatlah diperlukan.
a. Menciptakan iklim yang mendukung
Gerak dan isyarat yang sederhana, seperti sapaan atau senyuman
sangat membantu dalam menciptakan iklim yang mendukung. Selain itu, sense of
community (perasaan kebersamaan) yaitu perasaan satu tujuan dan saling
mendukung setiap usaha untuk mencapai tujuan, sangat perlu dibangun. Lingkungan
sekolah yang mendukung, penuh kasih sayang, dan nyaman juga sangat membantu
siswa yang mungkin memiliki masalah dalam keluarganya atau lingkungan
masyarakat di dekat rumahnya.
b. Mendefinisikan dan merespon perilaku yang tidak sesuai
Sangat perlu diingat bahwa beberapa perilaku yang tidak diterima di
budaya tertentu, bisa jadi diterima di budaya yang lain. Oleh karena itu,
mengidentifikasi perilaku yang tidak sesuai terlebih dahulu sebelum merespon
perilaku yang tidak sesuai sangat diperlukan. Identifikasi dan merespo perilaku
tidak sesuai bisa berupa komunikasi, berunding untuk menentukan akar masalah
dan mencari solusi bersama atas permasalah tersebut.
c. Mengakomodasi siswa-siswa yang berkebutuhan khusus
Ketika menciptakan lingkungan kelas yang produktif, perlu juga
diperhatikan dan dipertimbangkan setiapa kebutuhan khusus yang mungkin dimiliki
oleh siswa. Secara umum, prosedur pelaksanaan tugas yang ditentukan, ekspektasi
bagi perilaku siswa cukup jelas, dan misbehaviors yang diatasi dengan konsisten
juga sangat membantu dan bermanfaat bagi siswa yang memiliki hambatan khusus
dalam belajar. Sedangkan tindakan yang harus dilakukan, bagi siswa yang mungkin
memiliki hambatan khusus dalam belajar perlu adanya pengamatan atau
identifikasi masalah tersebut, hingga kemudian dapat bertindak yang sesuai.
E. Mengkoordinasikan usaha dengan orang lain
Ketika seorang guru berusaha untuk meningkatkan pembelajaran dan
perkembangan siswa, akan lebih efektif jika berkoordinasi atau setidaknya
meminta komentar atas rancangan-rancangan usaha yang akan dilakukan. Dengan
begitu, diharapkan akan mendapatkan beberasa saran atau masukan.
a. Bekerja dengan para guru lain
Seharusnya seorang guru tidak hanya menciptakan perasaan
kebersamaan hanya dalam ruang lingkup kelasnya saja. Akan tetapi juga harus
dalam ruang lingkup sekolah (sense of school community). Oleh karena itu,
bekerja sama dengan rekan guru sangat diperlukan. Beberapa perilaku yang dapat
membantu untuk menciptakan sense of school community, antara lain:
- Berkomunikasi dan selalu bekerja sama dengan guru lain dan para spesialis
(petugas perpus, laboratorium, dll)
- Membentuk tujuan bersama mengenai apa yang harus dipelajari dan
dicapai oleh siswa
- Bekerja sama untuk mengidentifikasi permasalahan siswa dan
mengembangkan solusi untuk mengatasinya
- Mengembangkan strategi bersama untuk mendorong perilaku siswa
yang produktif
- Membuat komitmen kelompok untuk meningkatkan kesetaraan dan
sensifitas multibudaya dalam komunitas sekolah
b. Bekerja dengan komunitas yang lebih luas
Siswa biasanya tidak hanya melakukan aktivitasnya di sekolah,
tetapi mungkin saja juga melakukan kontak dengan lingkungan lain, seperti:
oraganisasinya, masayarakat, layanan sosial, atau yang lainnya. Pemahaman
mengenai lingkungan-lingkungan tersebut juga sangat membantu untuk menetapkan
apa yanga harus guru lakukan. Guru juga dapat mengkoordinasikan usaha-usaha
untuk pengembangan siswa bila memungkinkan.
c. Bekerja dengan orang tua
Di samping semua yang telah dijelaskan sebelumnya, bekerja sama
dengan orang tua atau pengasuhnya sangat efektif untuk meningkatkan
perkembangan pembelajaran siswa dalam jangka panjang. Hubungan sangat penting
dilakukan jika guru dan siswa memiliki latar belakang budaya yang berbeda.
- Berkomunikasi dengan orang tua bisa dilakukan melalui pertemuan
orang tua dan guru, komunikasi tertulis, atau diskusi dengan kelompok orang
tua. Yang perlu diperhatikan di sini adalah komunikasi seharusnya berjalan dua
arah dengan informasi yang mengalir dari kedua arah.
- Melibatkan orang tua dalam aktivitas sekolah mampu menjalin
hubungan baik antara sekolah dengan keluarga siswa. Hal ini juga membantu untuk
tumbuh kembang anak dalam belajar. Beberapa cara untuk melibatkan orang tua,
seperti: mengundang orang tua dalam kegiatan sekolah, memohon bantuan untuk
penyumbangan dana, atau yang lainnya.
- Mendorong orang tua yang enggan. Meskipun sudah berusaha maksimal
untuk mendorong orang tua agar ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah,
mungkin ada beberapa alasan yang menyebabkan mereka tidak dapat menghadiri
undangan-undangan tersebut. Oleh karena itu, sebelum memutuskan bahwa orang tua
ini tidak peduli dengan pendidikan anak mereka, akan lebih baik jika
diidentifikasi terlebih dahulu penyebab ketidakhadirannya. Beberapa saran yang
dapat lakukan oleh guru untuk mendorong orang tua yang enggan dalam kegiatan
sekolah untuk lebih terlibat, antara lian: berusaha keras untuk mendapatkan
kepercayaan orang tua, mendorong orang tua untuk terus terang mengenai
pertanyaan atau kekhawatiran mereka, mengundang beberapa anggota lain yang
penting, meminta orang tua untuk membagi bakat mereka, memberikan saran dan
masukan, dan lain-lain.
- Membahas perilaku bermasalah dengan orang tua memang sangat
diperlukan, tetapi yang perlu diperhatikan dalam mengomunikasikan permasalahan
anak kepada orang tua adalah bagaimana cara guru mengomunikasikannya.
Komunikasikanlah permasalahan anak dengan sikap saling percaya, saling peduli,
saling menghormati, dan tidak saling menyalahkan sehingga tidak akan
memunculkan rasa bersalah atau pemikiran yang negatif guru kepada orang tua
atau orang tua terhadap guru.
- Mempertimbangkan perbedaan kelompok ketika bekerja dengan orang
tua. Sama seperti siswa dalam lingkungan sekolah, guru juga harus
mempertimbangkan latar belakang budaya orang tua ketika mengkomunikasikan
masalah anaknya. Terkadang perilaku bermasalah dalam satu budaya berbeda dengan
perilaku bermasalah dengan budaya lain.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Untuk menciptakan lingkungan belajar yang produktif, maka guru
harus melakukan beberapa hal dibawah ini:
- Mengatur kelas, Membangun dan Mempertahankan Hubungan Guru-Siswa
yang Produktif, menciptakan Iklim Psikologis yang Efektif yakni berupa rasa
aman dan nyaman, menciptakan batasan, dan merencanakan Aktivitas yang Membuat
Siswa Fokus pada Tugas.
- Menyikapi periaku yang tidak sesuai, yaitu dengan mengabaikan
perilaku, memberi isyarat kepada siswa, membahas masalah secara pribadi dengan
siswa, berunding dengan orang tua, mengajarkan strategi self-regulation, dan
melakukan intervensi sistematik yang telah direncanakan sebelumnya.
- Mempertimbangkan keberagaman Siswa, dengan cara menciptakan iklim
yang mendukung, mendefinisikan dan merespon perilaku yang tidak sesuai dan
mengakomodasi siswa-siswa yang berkebutuhan khusus.
- Mengkoordinasikan usaha dengan orang lain, seperti bekerja dengan
para guru lain, dan bekerja dengan komunitas yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Ormrod, Jeanne Ellis.2008.Psikologi Pendidikan : Membantu Siswa
Tumbuh dan Berkembang (Edisi keenam).Jakarta:Penerbit Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar