Tujuh Golongan Yang Mendapat Naungan di Hari Kiamat
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ
يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ
لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا
عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Amma ba’du
Ma’asyirol muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah memberikan
kita berbagai karunia. Karunia terbesar yang Allah berikan adalah karunia Iman
dan Islam. Karena Islam adalah nikmat terbesar dibandingkan lainnya seperti
nikmat harta dan kenikmatan dunia.
Bagaimana cara mensyukuri nikmat yang telah Allah karuniakan? Kita
diperintahkan untuk menikmatan takwa kita pada Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Shalawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan suri tauladan
kita, Nabi akhir zaman, Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
kepada Ummahatul Mukmin, kepada para sahabat tercinta, kepada khulafaur
rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang
mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.
Para jama’ah shalat jumat rahimani wa rahimakumullah
Ada hadits yang patut direnungkan pada kesempatan Jumat kali ini
yaitu mengenai mereka yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Yang
dimaksudkan naungan di sini adalah naungan ‘Arsy Allah sebagaimana dikuatkan
riwayatnya oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2: 144).
Hadits
lengkapnya berbunyi sebagai berikut.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ
لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang
dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya:
اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ
(1) imam yang adil,
وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ
(2)
seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh,
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ
(3)
seorang yang hatinya bergantung ke masjid,
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا
عَلَيْهِ
(4)
dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya
dan berpisah karena-Nya,
وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ :
إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ
(5)
seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai
kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allâh.’
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ
شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
(6)
seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya
sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
(7)
seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air
matanya.” (HR. Al- Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)
- Pertama
yang akan mendapatkan naungan Allah adalah pemimpin yang adil.
Pemimpin ini bersikap adil. Dalam hal amanat ia benar-benar
mengembannya dengan baik, tidak melampaui batas dan tidak meremehkan.
Keadilannya tidak beralih pada harta dan tidak beralih pada kesenangan dunia.
Itulah pemimpin yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.
- Kedua adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan pada Allah.
Kenapa disebut pemuda? Karena pemuda asalnya nafsunya begitu tinggi
pada dunia dan kebanyakan itu lalai dari akhirat. Kalau ada pemuda yang rajin
berjamaah di masjid, rajin menghadiri shalat fajar, akhlaknya pun bagus pada
bapak-ibunya, dialah pemuda yang jadi harapan akan mendapatkan naungan Allah
pada hari kiamat.
Pemuda seperti itu sangat jarang kita temui saat ini karena
kebanyakan pemuda itu lalai, di antara mereka lebih suka bersenang-senang dan
berfoya-foya. Ada kesempatan untuk bermain game, atau ngebut-ngebutan di sore
hari, atau bermain band, waktu mereka habis untuk hal-hal sia-sia semacam itu,
bahkan maksiat pun ada yang dijadikan hobi. Untuk saat ini jarang sekali kita
lihat pemuda yang mau sadar untuk ke masjid kecuali yang dirahmati oleh Allah
subhanahu wa ta’ala.
Maka pantas saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan
pemuda yang rajin ibadah dalam golongan yang akan mendapatkan naungan Allah
pada hari kiamat.
- Ketiga adalah ada orang yang hatinya selalu terkait dengan masjid.
Yang dimaksud di sini adalah laki-laki. Karena wanita lebih layak
tempatnya di rumah. Sampai pun untuk shalat lima waktu, wanita lebih utama
mengerjakannya di rumah dan pahalanya lebih besar. Sedangkan laki-laki, tempat
shalatnya itu di masjid.
Laki-laki yang hatinya terkait dengan masjid adalah yang biasa
menunggu shalat setelah shalat, misalnya ia menunggu waktu antara Maghrib dan
Isya dengan berada dalam majelis ilmu dengan mendengar kajian Quran atau hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bisa juga pengertian orang yang hatinya terkait dengan masjid
adalah mereka yang selalu mengingat shalat berjamaah walau dalam keadaan super
sibuk. Sopir kendaraan ketika mendengar suara azan segera memarkirkan
kendaraannya untuk mengerjakan shalat. Pegawai kantoran bergegas ke masjid
ketika berkumandang hayya ‘alash sholah, hayya ‘alash sholah. Contoh-contoh
seperti ini itulah mereka yang hatinya selalu terkait masjid.
- Keempat adalah dua orang yang saling mencintai di jalan Allah,
keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.
Yang dimaksud adalah mereka yang berteman karena Allah. Sehingga
teman yang dipilih adalah karena tertarik pada keshalihan, bukan tertarik pada
dunia dan harta. Pertemanan tersebut dibangun di atas iman sampai maut
menjemput.
- Kelima, ada seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang
wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar
takut kepada Allâh.’
Ada wanita yang kaya raya, terhormat dan begitu cantik. Ia menggoda
dan mengajak laki-laki untuk berzina. Namun karena takut pada Allah, laki-laki
tersebut tidak melakukannya.
Hadits ini mengisyaratkan tentang kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam
dengan permaisuri Raja Mesir yang menggodanya. Kalau tidak dengan pertolongan
dan perlindungan Allah tentu Nabi Yusuf bisa saja terjerumus dalam zina.
Maka kita bisa selamat dari maksiat hanya dengan pertolongan Allah.
Ingatlah kalimat “Laa hawla wa laa quwwata illa billah”. Apa maksud kalimat
tersebut?
Ibnu
Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ
عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ
“Tidak
ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindungan dari
Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan
Allah.”
Ini
lima golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ
Khutbah
Kedua
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى
أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Amma
ba’du
Ma’asyirol
muslimin jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah …
Golongan
keenam yang nantinya akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ
شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
- 6 seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia
menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan
kanannya.
Maksudnya, sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dilakukan
sembunyi-sembunyi. Lihatlah ibarat yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, tangan kanan yang berinfak lantas tangan kiri tidak
mengetahuinya. Ini menunjukkan bahwa yang paling dekat saja tidak mengetahui
kalau ia bersedekah.
Namun boleh saja seseorang bersedekah terang-terangan untuk
memberikan contoh pada orang lain. Juga sedekah boleh dilakukan terang-terangan
jika yang dimaksud adalah sedekah wajib (seperti zakat dan nafkah keluarga).
Lalu golongan ketujuh yang akan mendapatkan naungan Allah adalah,
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
- 7 seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu
ia meneteskan air matanya.
Maksudnya adalah orang yang rajin berdzikir pada Allah dengan
benar-benar menghayati, hingga terkadang air matanya menetes ketika menyendiri
karena takutnya pada Allah
Dikatakan ia berdzikir seorang diri (ketika sepi) menunjukkan bahwa
dzikir yang utama itu disembunyikan, karena lebih akan terjaga dari riya’
Semoga Allah menggolongkan kita masuk dalam tujuh golongan di atas
yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Di akhir khutbah ini, kami ingatkan untuk bershalawat pada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang bershalawat pada beliau sekali, akan
dibalas sepuluh kali.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Marilah
kita berdoa pada Allah, moga setiap doa kita diperkenankan di Jumat penuh
berkah ini.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ
وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا،
وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ،
وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي
أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا،
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ
لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا
مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar