الحَمْدُ للهِ الَّذِي
أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى دِيْنِ
كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ
إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ
المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا
يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا
الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً
وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Amma ba’du:
Para jama’ah
shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah …
Kita
diperintahkan untuk senantiasa bersyukur pada Allah atas nikmat yang telah
diberikan kepada kita sekalian. Bentuk syukur ini sebagaimana dikatakan oleh
Abu Hazim, seorang ulama yang zuhud di masa silam,
“Engkau
tahan anggota badanmu dari maksiat dan engkau gunakan dalam ketaatan pada
Allah.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2: 84)
Syukur
inilah yang kita buktikan dengan takwa sebagaimana yang Allah perintahkan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Shalawat dan
salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat
paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti
salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.
Ingatlah
tentang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits
Tsauban radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,“Sesungguhnya akan ada
pada umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para
nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku.” (HR. Abu Daud, no. 4252; Muslim, no.
2889. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Kaum
muslimin Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa mendapatkan limpahan kebaikan
dari Allah Ta’ala …
Allah Ta’ala
mengingatkan agar kita tidak menuruti hawa nafsu seperti yang pernah diingatkan
pada Nabi Daud ‘alaihis salam,
يَا دَاوُودُ إِنَّا
جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا
تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ
عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
“Hai
Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka
berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang
berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad: 26)
Dalam ayat
lainnya juga diingatkan,
فَلِذَلِكَ فَادْعُ
وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
“Maka
karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana
diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS.
Asy-Syura: 15) Walau memang nafsu adalah suatu yang pasti ada pada diri
manusia. Kalau tidak ada nafsu makan, nafsu minum, nafsu pada wanita, tentu ia
akan sulit mempertahankan hidup dan sulit untuk menikah dan menyukai lawan
jenisnya. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (10: 635)menyatakan, “Adanya
nafsu dan syahwat itu sendiri tidaklah berakibat seseorang dihukum. Seseorang
baru dikatakan terkena hukuman ketika ia menuruti nafsunya sehingga yang ia
harus lakukan adalah melarang nafsunya (untuk melanggar larangan Allah).
Melarang nafsu yang akan salah itulah yang masuk ibadah dan amal shalih.” Coba
perhatikan hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian
untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua
mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan
adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina
kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan
berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari
yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).
Lihatlah
bukan karena kita punya mata, telinga, lisan, tangan, kaki hingga hati yang
membuat kita dihukum. Namun karena menuruti keinginan jelek dari anggota tubuh
tersebut.
Perlu
dipahami dahulu, dikarenakan mengikuti hawa nafsu itulah yang dapat mengarahkan
kita pada kerusakan. Nafsu jelek bisa mengantarkan pada kesyirikan. Nafsu jelek
bisa mengantarkan pada malas beribadah karena lebih senang untuk tidur
dibanding bangun untuk shalat shubuh. Nafsu jelek juga bisa mengantarkan pada
maksiat dan amalan yang tidak ada tuntunan.
Oleh
karenanya kita mesti mengendalikan hawa nafsu dan tidak mengikutinya terus.
Bagaimana caranya?
Coba ketahui
sebab-sebabnya dan itulah yang diperbaiki.
Pertama:
Membiasakannya sejak kecil
Kalau mengikuti
hawa nafsu sudah dibiasakan sejak kecil, maka akan terus seperti itu hingga
seseorang dewasa.
Karenanya
orang tua tidak baik memanjakan anaknya dengan enggan membangunkannya shalat
Shubuh. Kadang orang tua beralasa, “Ah dia masih ngantuk, kasihan dibangunkan.”
Namun kalau
anak meminta mainan, bahkan ada yang merusak dan melalaikan, malah ketika itu
dituruti.
Hati-hati
terus mengikuti keinginan anak, karena ada yang sekedar nafsunya sehingga orang
tua harus menimbang-nimbang manakah yang maslahat.
Kedua: Duduk-duduk dengan pengikut hawa nafsu
Ingat
duduk-duduk dengan pengikut hawa nafsu, bermajelis dengan para pemabuk, pemain
judi, orang yang akhlaknya rusak hingga dengan orang yang amalannya
asal-asalan, hanya membuat kita terpengaruh.
Karena
ingat,
الصَّاحِبُ سَاحِبٌ
“Sahabat itu
sifatnya menarik.”
Ketiga: Kurang mengenal hak Allah tidak mengenal
akhirat dengan baik
Karena kalau
seseorang terus memikirkan dunia dan lalai dari akhirat, hawa nafsunya akan
selalu dituruti.
Keempat: Kurang amar ma’ruf nahi mungkar
Kalau tidak
saling mengingatkan, maka yang ada adalah maksiat akan terus ada di tengah
masyarakat kita dan banyak yang menuruti hawa nafsu. Allah Subhanahu wa
Ta’ala memerintahkan,
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ
وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ
الأمُورِ “Dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman:
17)
Kelima:
Cinta dunia dan terus tersibukkan dengan dunia
Sifat ini
akan membuat kita terus menuruti hawa nafsu.
Keenam: Tidak mengetahui bahaya karena menuruti hawa
nafsu
Padahal
mengikuti hawa nafsu itu amat berbahaya, dapat membuat kita lalai dari
kewajiban, terjerumus dalam dosa besar hingga berbuat syirik pada Allah.
Demikian
khutbah pertama ini, moga Allah menjauhkan kita dari hawa nafsu yang selalu
membawa pada kesesatan.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا
أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
أَحْمَدُ رَبِّي
وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ
Jamaah
Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala …
Kalau kita
sudah mengetahui sebab-sebab yang membuat kita mengikuti hawa nafsu, lalu
bagaimana cara mengobatinya?
Pertama: Kembali pada Allah, banyak ingat akhirat
Karena nurut
pada dunia, tidak membuat kita kekal di dunia. Rumah, mobil, motor, sawah,
kekayaan yang kita miliki tidak bisa membuat kita abadi di dunia. Hidup kita
ada batasnya, sehingga butuh nafsu itu dikendalikan.
Kedua: Melawan hawa nafsu, tidak menurutinya
Hawa nafsu
selamanya tidak dituruti. Kalau nafsu mengajak kita malas untuk beribadah, maka
kita paksa dan lawan dengan bangkit dan bangun dari kemalasan kita.
Ketiga: Berteman dengan orang shalih dan bermajelis
dengan ulama
Seperti
dengan berada di majelis ilmu dan pengajian.
Demikian
khutbah kali ini, moga Allah menjauhkan kita dari nafsu yang mengajak kepada
kejelekan.
Jamaah
Shalat Jumat yang moga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala …
Di hari
Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada
Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan
membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa
pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah
Ta’ala.
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا
مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا
تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا
مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا
مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ
ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى
دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
رَبَّنَا لَا تُزِغْ
قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ
أَنْتَ الْوَهَّابُ
اللَّهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ
عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا
وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar