Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا
لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا
بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ
وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ
تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا
عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Amma ba’du:
Para jama’ah shalat Jum’at rahimani
wa rahimakumullah …
Marilah
kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita
sekalian. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan suri tauladan
kita, Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Penting
sekali kita muhasabah diri atau mengoreksi diri. Muhasabah adalah melihat pada
amalan yang telah dilakukan oleh jiwa, lalu mengoreksi kesalahan yang dilakukan
dan menggantinya dengan amalan shalih.
Kita yakin, kita semua penuh
kekurangan, entah masih terus menerus dalam bermaksiat, kurang dalam ketaatan
bahkan kadang bermudah-mudahan meninggalkan kewajiban.
Allah memerintahkan kita untuk
muhasabah diri,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ
نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ (19)أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ
الْفَاسِقُونَ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah
menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang
fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19)
Inilah yang menjadi dalil agar kita bisa mengoreksi diri
(muhasabah). Jika tergelincir dalam kesalahan, maka dikoreksi dan segera
bertaubat lalu berpaling dari segala perantara yang dapat mengantarkan pada
maksiat. Kalau kita melihat ada kekurangan dalam amalan yang wajib, maka
berusaha keras untuk memenuhinya dengan sempurna dan meminta tolong pada Allah
untuk dimudahkan dalam ibadah.
Lihatlah doa yang diajarkan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya dimudahkan dalam ibadah seperti dalam
hadits berikut ini.
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu
‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu
berkata,
يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ
“Wahai Mu’adz, demi Allah,
sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam selanjutnya bersabda, “Aku memberikanmu nasihat, wahai Mu’adz. Janganlah
engkau tinggalkan saat di penghujung shalat bacaan doa:
اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
ALLOOHUMMA
A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku
dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).”) HR. Abu Daud,
no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad
hadits ini shahih.)
Hanya dengan pertolongan Allah-lah,
kita bisa mudah melakukan ibadah dan menjauhi maksiat.
Para jama’ah shalat Jum’at yang
semoga senantiasa dirahmati oleh Allah.
Apa Manfaat Muhasabah?
Pertama: Meringankan hisab pada hari
kiamat.
‘Umar
bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Hisablah diri kalian
sebelum kalian dihisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal
kalian sebelum ditimbang kelak. Ingatlah keadaan yang genting pada hari kiamat,
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada
hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang
tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18).” (Az-Zuhud li Ibnil Mubarak,
hlm. 306. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 371.)
Al-Fudhail
bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Mukmin itu yang rajin menghisab dirinya
dan ia mengetahui bahwa ia akan berada di hadapan Allah kelak. Sedangkan orang
munafik adalah orang yang lalai terhadap dirinya sendiri (enggan mengoreksi
diri, pen.). Semoga Allah merahmati seorang hamba yang terus mengoreksi dirinya
sebelum datang malaikat maut menjemputnya.” (Tarikh Baghdad, 4:148. Lihat A’mal
Al-Qulub, hlm. 372.)
Kedua: Terus bisa berada dalam petunjuk
Sebagaimana
disebutkan oleh Imam Al-Baidhawi rahimahullah dalam tafsirnya bahwa seseorang
bisa terus berada dalam petunjuk jika rajin mengoreksi amalan-amalan yang telah
ia lakukan. (Tafsir Al-Baidhawi, 1:131-132. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 372.)
Ketiga: Mengobati hati yang sakit
Karena hati yang sakit tidaklah
mungkin hilang dan sembuh melainkan dengan muhasabah diri.
Keempat: Selalu menganggap diri
penuh kekurangan dan tidak tertipu dengan amal yang telah dilakukan.
Kelima: Membuat diri tidak takabbur
(sombong)
Cobalah lihat apa yang dicontohkan
oleh Muhammad bin Wasi’ rahimahullah ketika ia berkata,
لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ
إِلَيَّ
“Andaikan dosa itu memiliki bau,
tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.”
(Muhasabah An-Nafs, hlm. 37. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 373.)
Keenam: Seseorang akan memanfaatkan
waktu dengan baik
Dalam
Tabyin Kadzbi Al-Muftari (hlm. 263), Ibnu ‘Asakir pernah menceritakan tentang
Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi rahimahullah bahwa ia terbiasa mengoreksi
dirinya dalam setiap nafasnya. Ia tidak pernah membiarkan waktu tanpa faedah.
Kalau kita menemuinya pasti waktu Salim Ar-Razi diisi dengan menyalin, belajar
atau membaca.
Maka
siapa pun hendaklah muhasabah diri, baik orang yang bodoh maupun orang yang
berilmu karena manfaat yang besar seperti yang telah disebut di atas. Sebelum
beramal hendaklah kita bermuhasabah, begitu pula setelah kita beramal, kita
bermuhasabah pula. Jangan sampai amal kita menjadi,
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى
نَارًا حَامِيَةً
“Bekerja
keras lagi kepayahan, malah memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS.
Al-Ghasyiyah: 3-4). Kata Ibnu Katsir rahimahullah, seseorang menyangka telah
beramal banyak dan merasakan kepayahan, malah pada hari kiamat ia masuk neraka
yang amat panas. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:549)
Bagaimana Cara Muhasabah?
Pertama:
Mengoreksi diri dalam hal wajib, apakah punya kekurangan ataukah tidak. Karena
melaksanakan kewajiban itu hal pokok dalam agama ini dibandingkan dengan
meninggalkan yang haram.
Kedua: Mengoreksi diri dalam hal
yang haram, apakah masih dilakukan ataukah tidak.
Contoh,
jika masih berinteraksi dengan riba, maka ia berusaha berlepas diri darinya.
Jika memang pernah mengambil hak orang lain, maka dikembalikan. Kalau pernah
mengghibah orang lain, maka meminta maaf dan mendoakan orang tersebut dengan
doa yang baik. Dalam perkara lainnya yang tidak mungkin ada koreksi (melainkan
harus ditinggalkan, seperti minum minuman keras dan memandang wanita yang bukan
mahram), maka diperintahkan untuk bertaubat, menyesal dan bertekad tidak mau
mengulangi dosa itu lagi, ditambah dengan memperbanyak amalan kebaikan yang
dapat menghapus kejelekan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
“Dan
dirikanlah shakat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian
permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu
menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi
orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)
Ketiga: Mengoreksi diri atas
kelalaian yang telah dilakukan. Contoh sibuk dengan permainan dan menonton yang
sia-sia.
Keempat:
Mengoreksi diri dengan apa yang dilakukan oleh anggota badan, apa yang telah
dilakukan oleh kaki, tangan, pendengaran, penglihatan dan lisan. Cara
mengoreksinya adalah dengan menyibukkan anggota badan tadi dalam melakukan
ketaatan.
Kelima:
Mengoreksi diri dalam niat, yaitu bagaimana niat kita dalam beramal, apakah
lillah ataukah lighairillah (niat ikhlas karena Allah ataukah tidak). Karena
niat itu biasa berubah, terombang-ambing. Karenanya hati itu disebut qalb,
karena seringnya terombang-ambing. Semoga Allah memberikan taufik dan
hidayahnya kepada kita
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ
المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْم
Khutbah Kedua
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ
وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ الدَّعْوَة
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا
وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ
الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا
بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ
الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى
مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ
الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا
مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا
مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ
وَالغِنَى
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا
مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar